Penulis : Athaillah Hasyim
Dalam diskusi yang umum dilakukan, politik merupakan topik yang selalu hangat. Hal ini mungkin disebabkan dari dimensi pengamatan politik itu sendiri yang masih selalu mengandung asimetri informasi dan misteri kebenaran yang sulit untuk di konfirmasi. Maka dari itu, bukan suatu yang mengherankan studi tentang politik seringkali tumpang tindih dengan penyebutan politik sebagai sebuah seni daripada sebuah ilmu (Political Science). Dalam praktiknya, bentuk asimetri informasi ini turut menjadi suatu permasalahan yang nyata diantara politisi sebagai komunikator dan masyarakat sebagai komunikan (audiens). Informasi politik yang dibagikan seringkali tidak lugas, bertele-tele, birokratis bahkan cenderung tidak berhubungan dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat sebagai komunikan. Salah satu bentuk komunikasi politik yang menarik dalam cakupan ini disebut sebagai Dog Whistle Politics.
Sebagai suatu aktivitas, Komunikasi politik merupakan suatu tindakan komuniksi massal yang melibatkan banyak audiens. Namun dengan adanya suatu pesan tertentu dalam tujuan yang spesifik, komunikasi politik dilakukan untuk menyasar audiens tertentu. Pesan-pesan ini umumnya mengandung makna-makna tersirat yang hanya dipahami oleh audiens yang ditargetkan. Oleh karena itu, jenis komunikasi politik Dog Whistle seringkali dipenuhi oleh bahasa metaforik, asumsi yang tidak umum bahkan terdengar tidak relevan dan asing bagi publik luas. Hal ini bukanlah kesalahan komunikasi melainkan agenda komunikasi politik yang diniatkan untuk tujuan tertentu. Contohnya jika seorang pejabat memberikan keterangan dengan mengatakan “kami sering ngopi kok, orangnya baik”. Hal ini mungkin menandakan bahwa transaksi politik baru saja terjadi diantara kedua pihak.
Istilah Dog Whistle meminjam kata secara harfiah yang diartikan sebagai peluit anjing. Karakteristik dari peluit anjing yang membunyikan suara berfrekuensi tinggi dan hanya dapat ditangkap dan dipahami oleh jenis hewan tertentu, menjelaskan bahwa istilah Dog Whistle merujuk pada teknik komunikasi yang digunakan untuk menyasar komunikan tertentu (Quaranto, 2022). Dalam ilmu komunikasi, Dog whistle merupakan bentuk komunikasi multivokal yang menyasar beberapa kelompok politik tertentu (Alberson, 2015; Åkerlund, 2022). Kajian oleh (Witten, 2023) menerangkan bahwa desain komunikasi dog whistle sangat mengandalkan asimetri informasi yang ada antara audiens umum dan audiens target. Hal ini menegaskan bahwa upaya aktif dan keberhasilan dog whistle politics tidak diukur sebagaimana komunikasi politik lain yaitu untuk menunjukkan transparansi informasi kepada khalayak, namun untuk menyampaikan informasi tertentu kepada kelompok politik tertentu.
Beberapa ahli berpandangan bahwa komunikasi dog whistle merupakan ancaman bagi demokrasi dan transparansi informsi politik kepada publik awam (Goodin & Sawad, 2005). Pandangan yang lebih realis terhadap hal ini menyatakan bahwa dog whistle merupakan konsekuensi dari sebuah situasi politik yang penuh fragmentasi dan pluralitas yang beragam. Praktisi politik kemudian terpaksa untuk menggunakan jenis komunikasi ini untuk menyampaikan pesan tertentu kepada kelompok politik tertentu tanpa menciptakan instabilitas akibat pernyataan yang lugas (Tillyris, 2023).
Sebagai analis politik dan akademisi di bidang yang relevan, fenomena Dog Whistle adalah suatu realitas yang harus diterima dan dikaji lebih lanjut secara teoritis. Mengingat adanya tuntutan objektivitas ilmiah, pola komunikasi dog whistle merupakan tantangan metodologis tersendiri bagi berbagai disiplin khususnya linguistik. Mengutip Witten (2022), suatu tantangan epistemologis menuntut untuk membedakan antara komunikasi yang dilakukan oleh komunikator dilakukan secara sengaja atau secara tidak sadar (Saul, 2018; Quaranto, 2022). Lebih lanjut, tantangan terbesar bagi analis maupun akademisi terletak pada blindspot dari konteks yang dibawakan. Konsekuensi dari pola komunikasi dog whistle dan ketidakjelasan maknanya akan menimbulkan ketidakpastian. Analis dituntut untuk dapat memisahkan antara sinyal kebijakan yang relevan dengan sinyal identitas yang melekat pada maknanya (Horn, 2020; Mendelberg, 2001; Khoo, 2017)). Keterbatasan informasi terkait konteks yang dibawakan serta profil komunikator menunjukkan gap yang sangat lebar untuk dikaji lebih lanjut.
Komunikasi politik merupakan hal yang sangat penting untuk dianalisis mengingat realitas sangat bergantung pada bagaimana transaksi politik yang tersembunyi dan sulit untuk diobjektivikasi itu dibuat. Keberhasilan enkripsi pada makna komunikasi dog whistle sangat bermanfaat untuk lebih mengenali proyeksi masa depan terhadap struktur makro ekonomi di suatu negara. Hasil studi yang dapat memecah jurang dalam ini dapat digunakan oleh pelaku pasar untuk melihat bagaimana prospek ekonomi hingga kebijakan-kebijakan dimasa depan (Haney- López, 2014; Bhat & Klein, 2020).
Dalam keseharian masyarakat, sebagaimana dikemukakan oleh Goodin (2008) dog whistle politik merupakan ancaman sekaligus realitas literasi politik yang masih sangat rendah. Hal ini kemudian ditafsirkan sebagai manipulasi massal yang dapat diartikan rendahnya partisipasi masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan politik yang dibuat oleh pemangku kebijakan. Dog whistle sebagai metode komunikasi umum di masyarakat juga menunjukkan bahwa masyarakat masih cenderung takut untuk mengkomunikasikan fenomena politik secara lugas akibat risiko-risiko politik dan cepat atau lambat akan menimbulkan apatisme.
Daftar Pustaka
Åkerlund, M. (2022). Dog whistling far-right code words: the case of ‘culture enricher’ on the Swedish web. Information Communication and Society, 25(12), 1808–1825. https://doi.org/10.1080/1369118X.2021.1889639
Blackington, C., & Cayton, F. (2025). To Dog-Whistle or to Bark? Elite Communication Strategies When Invoking Conspiracy Theories. Government and Opposition, 60(2), 382–403. https://doi.org/10.1017/gov.2024.21
Bouvier, G., Rosenbaum Editors, J. E., & Rosenbaum, J. E. (n.d.). Twitter, the Public Sphere, and the Chaos of Online Deliberation palgrave macmillan Editors. https://doi.org/10.1007/978-3.030-41421-4_7
Decoding Political Jargon to Understand What it Might Mean Political Dog Whistles 101 Decoding a Dog Whistle and its Subtle Messaging How You Can Help Silence Political Dog Whistles Understanding Political Dog Whistles Decoding Political Jargon to Understand What it Might Mean. (n.d.). Retrieved www.advocacyandcommunication.org
Georgiev, V. (2025). DOG WHISTLES AND CAT SENSES – HIDDEN EXTREMISM AND THE FRAMEWORK ОF LEGAL OVERSIGHT IN EUROPEAN COURT OF HUMAN RIGHTS CASE LAW. Politics & Security, 13(3), 95–105. https://doi.org/10.54658/ps.28153324.2025.13.3.pp.95-105
Goodin, R. E., & Saward, M. (n.d.). Dog Whistles and Democratic Mandates.
Horn, A., Kevins, A., Jensen, C., & van Kersbergen, K. (2021). Political parties and social groups: New perspectives and data on group and policy appeals. Party Politics, 27(5), 983–995. https://doi.org/10.1177/1354068820907998
Quaranto, A. (n.d.). Dog Whistles, Covertly Coded Speech, and the Practices that Enable Them.
SAUDPM. (n.d.).
Sayeed, A., Breitholtz, E., Cooper, R., Lindgren, E., Rettenegger, G., & Rönnerstrand, B. (2025). The utility of (political) dogwhistles – a life cycle perspective. Journal of Language and Politics, 24(2), 214–234. https://doi.org/10.1075/jlp.23047.say
Tillyris, D. (2024). Dog-whistling and democracy. British Journal of Politics and International Relations, 26(4), 1015–1032. https://doi.org/10.1177/13691481231208147
Torices, J. R. (2021). Understanding dogwhistles politics. Theoria (Spain), 36(3), 321–329. https://doi.org/10.1387/theoria.22510
Wetts, R., & Willer, R. (2019). Who Is Called by the Dog Whistle? Experimental Evidence That Racial Resentment and Political Ideology Condition Responses to Racially Encoded Messages. Socius, 5. https://doi.org/10.1177/2378023119866268
Witten, K. (2023). The Definition and Typological Model of a Dogwhistle. Manuscrito, 46(3). https://doi.org/10.1590/0100-6045.2023.V46N3.KW.