Penulis : Ashabul Zikra
Kesibukan perkuliahan merupakan salah satu alasan yang kerap dikemukakan mahasiswa
ketika tidak dapat menghadiri rapat, mengikuti kegiatan, atau terlibat dalam evaluasi
program kerja organisasi kemahasiswaan. Dalam percakapan sehari-hari, alasan ini lazim
disampaikan melalui ungkapan singkat seperti “ada kuliah”. Alasan tersebut pada
umumnya diterima tanpa penelusuran lebih lanjut, sehingga faktor-faktor yang
melatarbelakanginya jarang dikaji secara sistematis. Hal ini memunculkan pertanyaan
mengenai sejauh mana beban akademik benar-benar menjadi penentu ketidakterlibatan
mahasiswa, serta apakah terdapat faktor lain yang turut berperan.
Persoalan ini tidak hanya relevan bagi pengelolaan organisasi kemahasiswaan, tetapi juga
berkaitan dengan kajian psikologi pendidikan dan perilaku organisasi. Sejumlah temuan
penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara keaktifan berorganisasi dan kegiatan
akademik tidak selalu bersifat negatif. Ichsan dan Alwi (2023) melaporkan bahwa
mahasiswa yang aktif berorganisasi memiliki tingkat prokrastinasi akademik yang lebih
rendah dibandingkan mahasiswa yang tidak terlibat dalam organisasi, yang dikaitkan
dengan kemampuan pengaturan diri dalam belajar (self-regulated learning). Temuan
tersebut mengindikasikan bahwa anggapan mengenai pertentangan antara kegiatan
organisasi dan perkuliahan perlu ditinjau kembali.
Di sisi lain, literatur mengenai Generasi Z mencatat adanya kecenderungan untuk secara
sadar membatasi keterlibatan dalam suatu komitmen, yang dikenal dengan istilah quiet
quitting (Desfilova, 2025; Risalni dkk., 2026). Meskipun kedua kajian tersebut berfokus
pada konteks kerja, kecenderungan serupa dimungkinkan muncul pula dalam keterlibatan
mahasiswa pada organisasi kemahasiswaan.
Berdasarkan kedua sudut pandang tersebut, tulisan ini bertujuan menelaah faktor-faktor
yang melatarbelakangi ketidakterlibatan mahasiswa dalam organisasi kemahasiswaan.
Secara khusus, tulisan ini mengkaji apakah ketidakterlibatan tersebut semata-mata
berkaitan dengan beban akademik atau juga dengan faktor psikologis dan sosial lainnya.
Alasan Akademik dalam Ketidakterlibatan Mahasiswa pada Organisasi Kemahasiswaan
Analisis dan Sintesis
Hubungan antara Keaktifan Berorganisasi dan Kegiatan Akademik
Anggapan bahwa kegiatan organisasi selalu berbenturan dengan perkuliahan perlu diuji
berdasarkan bukti empiris. Penelitian terhadap mahasiswa yang aktif berorganisasi
menunjukkan bahwa keterlibatan dalam kegiatan kemahasiswaan berkaitan dengan
kemampuan pengaturan diri dalam belajar yang lebih baik, termasuk dalam mengatur
waktu dan menetapkan target akademik (Ichsan & Alwi, 2023). Dengan demikian,
kemampuan mengelola tanggung jawab organisasi tidak serta-merta mengurangi
kapasitas mahasiswa dalam mengelola tanggung jawab akademik; keduanya dapat
berkembang secara bersamaan.
Temuan yang sejalan dilaporkan oleh Lestari dkk. (2024), yang menunjukkan bahwa
partisipasi organisasi, kualitas lingkungan kampus, dan dukungan sosial secara simultan
berkontribusi positif terhadap kesejahteraan mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa
organisasi tidak hanya dapat dipandang sebagai tambahan beban, tetapi juga berpotensi
menjadi sumber dukungan sosial dalam menghadapi tekanan akademik. Implikasinya,
mahasiswa yang tidak terlibat dalam organisasi berpotensi memiliki akses yang lebih
terbatas terhadap salah satu sumber dukungan tersebut. Namun demikian, temuan ini
diperoleh dari sampel dan konteks tertentu sehingga generalisasinya perlu dilakukan
secara hati-hati.
Faktor Motivasional dalam Keputusan untuk Terlibat
Teori determinasi diri (self-determination theory) menyediakan kerangka yang relevan
untuk memahami keputusan mahasiswa terkait keterlibatan dalam organisasi. Teori ini
menjelaskan bahwa motivasi berada pada suatu kontinum, mulai dari motivasi yang
digerakkan oleh faktor eksternal (extrinsic motivation) hingga motivasi yang bersumber
dari minat dan kepuasan pribadi (intrinsic motivation). Keberlanjutan motivasi bergantung
pada terpenuhinya tiga kebutuhan psikologis dasar, yaitu otonomi, kompetensi, dan
keterhubungan (Ryan & Deci, 2020). Dalam konteks organisasi kemahasiswaan, kerangka
ini mengisyaratkan bahwa keputusan untuk terlibat atau tidak terlibat tidak hanya
ditentukan oleh ketersediaan waktu. Keputusan tersebut juga dipengaruhi oleh sejauh
mana mahasiswa merasa memiliki kendali atas pilihannya, merasa mampu, dan merasa
terhubung secara bermakna dengan organisasi yang bersangkutan.
Kebutuhan akan kompetensi tidak terpenuhi secara merata pada setiap mahasiswa,
terutama mahasiswa baru. Putri dan Lubis (2025) menemukan bahwa sebagian besar
mahasiswa baru yang diteliti berada pada tingkat efikasi diri (self-efficacy) sedang,
sedangkan sebagian lainnya berada pada kategori rendah hingga sangat rendah. Temuan
ini membuka kemungkinan bahwa ketidakterlibatan dalam organisasi pada sebagian
Alasan Akademik dalam Ketidakterlibatan Mahasiswa pada Organisasi Kemahasiswaan
mahasiswa berkaitan dengan keraguan terhadap kemampuan diri untuk berkontribusi,
bukan semata-mata dengan keterbatasan waktu. Dalam kondisi demikian, alasan
akademik dapat menjadi alasan yang lebih mudah disampaikan dibandingkan keraguan
terhadap kemampuan diri. Meskipun demikian, keterkaitan ini masih bersifat dugaan dan
memerlukan pengujian empiris lebih lanjut.
Tiga Kemungkinan Penjelasan atas Alasan Akademik
Berdasarkan tinjauan di atas, alasan akademik yang dikemukakan mahasiswa dapat
dijelaskan melalui setidaknya tiga kemungkinan.
- Alasan tersebut mencerminkan beban akademik yang nyata, sehingga pembatasan
keterlibatan merupakan keputusan yang rasional untuk menjaga fokus belajar dan
kesehatan mental. Hal ini sejalan dengan kecenderungan penetapan batasan diri (selfboundary setting) pada Generasi Z (Desfilova, 2025; Risalni dkk., 2026). - Alasan tersebut dapat berkaitan dengan rendahnya efikasi diri dalam konteksorganisasi, sebagaimana ditemukan pada sebagian mahasiswa baru (Putri & Lubis, 2025).
- Alasan tersebut dapat berkaitan dengan persepsi bahwa lingkungan organisasi tertentu kurang memberikan dukungan sosial yang memadai, mengingat kualitas lingkungan dan dukungan sosial berkontribusi terhadap kesejahteraan mahasiswa (Lestari dkk., 2024). Ketiga kemungkinan tersebut tidak saling meniadakan dan dapat muncul secara bersamaan pada individu yang sama
Kesimpulan
Berdasarkan kajian literatur di atas, dapat disimpulkan bahwa alasan akademik dalam
ketidakterlibatan mahasiswa pada organisasi kemahasiswaan tidak dapat dipahami
sebagai faktor tunggal. Alasan tersebut dapat mencerminkan beban akademik yang
sesungguhnya serta upaya menjaga kesehatan mental melalui pembatasan keterlibatan
(Desfilova, 2025; Risalni dkk., 2026). Di samping itu, alasan tersebut juga dapat berkaitan
dengan rendahnya keyakinan terhadap kemampuan diri (Putri & Lubis, 2025) atau dengan
lingkungan organisasi yang dirasakan kurang mendukung (Lestari dkk., 2024).
Oleh karena itu, ketidakterlibatan mahasiswa perlu dipahami secara lebih menyeluruh
dengan mempertimbangkan faktor akademik, psikologis, dan sosial, bukan hanya dari sisi
ketersediaan waktu. Penelitian empiris lebih lanjut diperlukan untuk menguji secara
langsung kontribusi masing-masing faktor tersebut.
Alasan Akademik dalam Ketidakterlibatan Mahasiswa pada Organisasi Kemahasiswaan
Daftar Pustaka
Desfilova, S. (2025). Analisis fenomena quiet quitting dan keseimbangan kehidupan kerja
di kalangan Gen Z. Jurnal Bisnis dan Manajemen West Science, 4(03), 218–226.
Ichsan, H. U. H., & Alwi, M. A. (2023). Self-regulated learning dan prokrastinasi akademik
pada mahasiswa aktif berorganisasi. Jurnal Psikologi Talenta Mahasiswa, 2(4).
Lestari, D. P., Safitri, A., & Mas’udiyah, N. A. (2024). Pengaruh partisipasi organisasi
mahasiswa, kualitas lingkungan kampus dan dukungan sosial terhadap kesejahteraan
mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Angkatan 2022 UIN Sunan Ampel Surabaya.
INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling, 12(2), 1–8.
Putri, M. K., & Lubis, K. (2025). Deskripsi tingkat self efficacy mahasiswa baru dalam
lingkungan organisasi. EduTech: Jurnal Teknologi Pendidikan, 24(3).
Risalni, K., Rizaldi, A. R., & Syahriani, A. T. (2026). Makna quiet quitting bagi mahasiswa
Generasi Z yang bekerja. RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business, 5(1),
11103–11111.
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2020). Intrinsic and extrinsic motivation from a selfdetermination theory perspective: Definitions, theory, practices, and future directions.
Contemporary Educational Psychology, 61, 101860.