Self-Reward di Tengah Financial Stress: Self-Appreciation atau Financial Escape
Self-Reward di Tengah Financial Stress: Self-Appreciation atau Financial Escape
Diterbitkan : Jum, 2 Oktober 2026
Penulis : Divisi Humas
WhatsApp Image 2026-10-02 at 19.41.23

Penulis : Rezky Awaliah Ramadhana Arifin

Tekanan terhadap kondisi keuangan menjadi salah satu persoalan yang dapat memengaruhi kehidupan individu ketika kemampuan finansial tidak sebanding dengan kebutuhan dan tuntutan yang harus dipenuhi. Keterbatasan pendapatan, meningkatnya pengeluaran, serta kesulitan memenuhi kebutuhan dapat menimbulkan financial stress, yaitu tekanan psikologis yang berkaitan dengan kondisi keuangan individu. Tekanan tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi emosional, tetapi juga dapat berhubungan dengan cara seseorang mengambil keputusan keuangan. Dalam situasi tersebut, individu perlu mengatur sumber daya yang terbatas sekaligus menghadapi kebutuhan untuk memperoleh rasa nyaman setelah melewati berbagai tekanan.

Salah satu perilaku yang dapat muncul dalam kondisi tersebut adalah self-reward. Self-reward merupakan tindakan memberikan penghargaan kepada diri sendiri setelah melakukan usaha, mencapai tujuan, atau melewati pengalaman tertentu. Dalam konteks perilaku konsumen, tindakan memberikan penghargaan kepada diri sendiri dapat diwujudkan melalui self-gifting, yaitu pemberian hadiah kepada diri sendiri sebagai bentuk penghargaan maupun untuk memperoleh manfaat emosional (Wulandari dkk., 2025). Self-reward tidak selalu menunjukkan perilaku konsumtif karena tindakan tersebut dapat memiliki tujuan psikologis berupa pengakuan terhadap usaha yang telah dilakukan.

Di sisi lain, kondisi financial stress dapat menimbulkan persoalan ketika self-reward diwujudkan melalui pengeluaran. Individu yang berada dalam tekanan finansial menghadapi kebutuhan untuk memperoleh kepuasan dalam jangka pendek, tetapi pada saat yang sama perlu mempertimbangkan keterbatasan keuangannya. Wahyuningtyas (2015) menyatakan bahwa financial stress berkaitan dengan menurunnya kemampuan inhibitory control dan meningkatnya kecenderungan individu mengambil keputusan yang berorientasi pada kondisi saat ini. Temuan tersebut menunjukkan bahwa tekanan finansial dapat memengaruhi kemampuan individu dalam mengendalikan dorongan ketika mengambil keputusan ekonomi.

Kondisi tersebut menimbulkan dua kemungkinan dalam memahami self-reward. Di satu sisi, self-reward dapat menjadi bentuk self-appreciation, yaitu penghargaan terhadap diri sendiri atas usaha, pencapaian, atau kemampuan dalam menghadapi suatu keadaan. Di sisi lain, self-reward dapat mengarah pada financial escape ketika konsumsi digunakan terutama untuk memperoleh kelegaan sementara dari tekanan finansial yang dirasakan. Perbedaan keduanya tidak hanya ditentukan oleh tindakan konsumsi, tetapi juga oleh motivasi dan pertimbangan finansial yang mendasari tindakan tersebut. Berdasarkan permasalahan tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis self-reward di tengah financial stress serta mengidentifikasi apakah perilaku tersebut lebih mencerminkan self-appreciation atau financial escape.

Dalam kajian perilaku konsumen, tindakan memberikan penghargaan kepada diri sendiri berkaitan dengan konsep self-gifting. Self-gifting merupakan tindakan memberikan hadiah kepada diri sendiri sebagai respons terhadap pencapaian, pengalaman tertentu, atau kebutuhan untuk memperoleh kepuasan emosional. Oktavianus, Wijaya  & Sutejo (2025) menyatakan bahwa self-gifting dapat berfungsi sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri maupun sebagai cara memperoleh manfaat terapeutik. Hal tersebut menunjukkan bahwa tindakan memberikan sesuatu kepada diri sendiri memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas membeli atau mengonsumsi suatu barang.

Pemahaman tersebut diperkuat oleh Felia & Lesmana (2026) yang menyatakan bahwa self-gifting dapat muncul setelah individu mengalami pengalaman yang sulit. Pengalaman tersebut dapat meningkatkan perasaan bahwa seseorang layak memperoleh penghargaan. Pemberian penghargaan kepada diri sendiri juga dapat muncul sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian yang telah diraih individu. Nuryasman & Elizabeth (2023) menyatakan bahwa individu dapat memberikan hadiah kepada dirinya sendiri setelah mengalami keberhasilan atau mencapai tujuan tertentu. Pemberian tersebut muncul ketika individu memandang pencapaiannya sebagai hasil dari usaha yang layak memperoleh penghargaan. Self-reward memiliki dasar psikologis yang berkaitan dengan kebutuhan individu untuk mengakui usaha dan pencapaiannya sendiri setelah berhasil melewati situasi yang berat. Temuan tersebut menunjukkan bahwa self-reward dapat menjadi salah satu bentuk respons positif terhadap pengalaman yang telah dilalui. Dalam kondisi tersebut, pemberian penghargaan kepada diri sendiri tidak semata-mata bertujuan memperoleh barang, tetapi juga memberikan makna emosional berupa penghargaan terhadap diri.

Meskipun self-reward dapat memiliki fungsi positif, kondisi psikologis individu perlu diperhatikan ketika tindakan tersebut dilakukan dalam keadaan financial stress. Financial stress berkaitan dengan tekanan yang muncul ketika individu menghadapi kesulitan atau kekhawatiran mengenai kondisi keuangannya. Nuryadi dkk., (2026) menyatakan bahwa tekanan finansial berkaitan dengan kemampuan inhibitory control, sehingga kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan individu dalam mengendalikan dorongan ketika mengambil keputusan ekonomi. Temuan tersebut menjadi relevan dalam memahami self-reward karena pengeluaran yang dilakukan untuk memperoleh kepuasan dapat menjadi lebih sulit dikendalikan ketika individu berada dalam tekanan.

Namun, financial stress tidak selalu menghasilkan respons pengeluaran yang sama. Felia & Lesmana (2026) menyatakan bahwa individu yang mengalami stres dapat meningkatkan maupun mengurangi pengeluaran, bergantung pada bagaimana mereka berusaha mendapatkan kembali rasa kendali terhadap situasi yang dihadapi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa tekanan tidak secara otomatis menyebabkan individu melakukan pengeluaran berlebihan. Respons terhadap financial stress dapat berbeda sesuai dengan cara individu menghadapi dan mengelola tekanan tersebut.

Perbedaan respons individu terhadap tekanan finansial menunjukkan bahwa keputusan untuk melakukan self-reward tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi keuangan, tetapi juga oleh kemampuan individu dalam mengendalikan pengeluaran. Kemampuan tersebut menjadi penting karena menentukan sejauh mana seseorang dapat memberikan penghargaan kepada dirinya sendiri tanpa mengabaikan kondisi finansial yang dimiliki. Wahyuningtyas (2015) menyatakan bahwa consumer spending self-control berperan dalam menjaga financial well-being melalui kemampuan individu dalam mengendalikan keputusan pengeluaran. Pengendalian terhadap pengeluaran dapat membantu individu mempertimbangkan kondisi finansial sebelum melakukan self-reward, sehingga penghargaan kepada diri sendiri tetap dapat dilakukan tanpa mengorbankan kebutuhan dan tujuan keuangan yang lebih penting.

Analisis & Sintesis

Berdasarkan berbagai penelitian tersebut, penulis memandang bahwa self-reward di tengah financial stress tidak dapat langsung dikategorikan sebagai perilaku positif maupun negatif. Makna self-reward bergantung pada tujuan yang mendasari tindakan tersebut. Ketika seseorang memberikan penghargaan kepada dirinya sendiri setelah mencapai tujuan atau melewati suatu pengalaman yang sulit, tindakan tersebut lebih mencerminkan self-appreciation. Pandangan ini sejalan dengan Felia & Lesmana (2026) yang menjelaskan bahwa self-gifting dapat berfungsi sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri dan memberikan manfaat emosional bagi individu. Pemberian penghargaan kepada diri sendiri pada dasarnya dapat menjadi bentuk pengakuan terhadap usaha yang telah dilakukan.

Meskipun demikian, self-appreciation tidak harus selalu diwujudkan melalui pengeluaran. Hal yang lebih menentukan adalah adanya kesadaran mengenai alasan pemberian penghargaan dan kemampuan individu dalam menyesuaikannya dengan kondisi keuangan. Individu yang memberikan self-reward karena telah mencapai suatu tujuan dan tetap mempertimbangkan kemampuan finansial menunjukkan bahwa tindakan tersebut masih berada dalam fungsi self-appreciation. Pandangan ini didukung oleh Izudin (2025) yang menyatakan bahwa pengalaman sulit dapat meningkatkan kecenderungan seseorang melakukan self-gifting karena munculnya perasaan bahwa dirinya layak memperoleh penghargaan. Artinya, pengalaman yang menekan tidak selalu menghasilkan keputusan konsumsi yang tidak terkendali.

Namun, keadaan dapat menjadi berbeda ketika individu mengalami financial stress. Tekanan finansial dapat membuat individu menghadapi konflik antara kebutuhan untuk menjaga kondisi keuangan dan keinginan memperoleh kepuasan secara cepat. Wulandari dkk., (2025) menyatakan bahwa financial stress berkaitan dengan penurunan kemampuan inhibitory control. Temuan tersebut memberikan dasar bahwa tekanan finansial dapat memengaruhi kemampuan individu dalam mengendalikan dorongan ketika menghadapi keputusan ekonomi. Dalam konteks self-reward, kondisi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan seseorang memberikan penghargaan kepada dirinya sendiri bukan karena pencapaian, tetapi karena ingin mengurangi tekanan yang sedang dirasakan.

Perubahan tujuan tersebut menjadi dasar bagi penulis untuk membedakan self-appreciation dengan financial escape. Financial escape dipahami sebagai kecenderungan menggunakan konsumsi atau pengeluaran untuk memperoleh kelegaan sementara dari tekanan finansial. Ketika seseorang melakukan pembelian terutama untuk mengurangi rasa tertekan, fungsi self-reward mulai mengalami perubahan. Konsumsi tidak lagi berpusat pada penghargaan terhadap pencapaian, tetapi pada upaya memperoleh kenyamanan sesaat. Apabila dilakukan tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial dan berlangsung secara berulang, tindakan tersebut berpotensi menciptakan tekanan finansial tambahan.

Meskipun demikian, pandangan bahwa financial stress dapat mendorong financial escape tidak berarti bahwa setiap individu yang mengalami tekanan finansial akan menggunakan konsumsi sebagai pelarian. Nuryadi dkk., (2026) menyatakan  bahwa stres dapat menghasilkan respons ekonomi yang berbeda, baik peningkatan maupun pengurangan pengeluaran, bergantung pada cara individu berusaha memperoleh kembali rasa kendali. Temuan tersebut membantah pandangan yang terlalu sederhana bahwa financial stress selalu menghasilkan perilaku konsumsi sebagai pelarian. Oleh karena itu,  financial stress lebih tepat dipahami sebagai kondisi yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap financial escape, bukan sebagai penyebab tunggal.

Perbedaan respons tersebut kemudian mengarahkan perhatian pada kemampuan individu dalam mengendalikan pengeluaran. Self-control menjadi salah satu aspek yang menentukan apakah self-reward tetap berada dalam bentuk self-appreciation atau bergeser menjadi financial escape. Individu yang mampu mengendalikan pengeluaran dapat tetap memberikan penghargaan kepada dirinya sendiri dengan mempertimbangkan kemampuan finansial. Pandangan tersebut didukung oleh du Wulandari dkk., (2025) yang menyatakan adanya hubungan antara consumer spending self-control dan financial well-being. Kemampuan mengendalikan pengeluaran dapat membantu individu mempertahankan fungsi positif self-reward meskipun sedang berada dalam tekanan finansial.

Berdasarkan hubungan tersebut, batas antara self-appreciation dan financial escape terletak pada fungsi, motivasi, dan pertimbangan finansial dalam melakukan self-reward. Self-reward lebih mencerminkan self-appreciation ketika dilakukan karena individu ingin menghargai usaha atau pencapaiannya, dilakukan secara sadar, dan disesuaikan dengan kemampuan keuangan. Sebaliknya, self-reward lebih mengarah pada financial escape ketika konsumsi digunakan terutama untuk memperoleh kelegaan dari tekanan finansial dan dilakukan tanpa mempertimbangkan konsekuensi pengeluaran.

Self-reward di tengah financial stress berada pada suatu spektrum antara penghargaan terhadap diri dan upaya memperoleh pelarian sementara dari tekanan. Pada satu sisi, self-reward dapat memberikan manfaat emosional karena individu memperoleh kesempatan untuk mengakui usaha dan pencapaiannya. Pada sisi lain, financial stress dapat memengaruhi kemampuan pengendalian diri sehingga konsumsi lebih mudah digunakan sebagai sarana memperoleh kepuasan jangka pendek. Dengan demikian, financial stress tidak secara otomatis mengubah self-reward menjadi financial escape, tetapi dapat meningkatkan kemungkinan perubahan fungsi tersebut ketika individu tidak mampu mempertimbangkan kondisi finansialnya.

Self-reward tidak perlu dihilangkan ketika seseorang mengalami financial stress. Kebutuhan untuk menghargai diri tetap dapat dipenuhi, tetapi bentuk penghargaan perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial. Self-reward yang dilakukan secara sadar, terukur, dan tidak mengganggu kebutuhan utama dapat mempertahankan fungsinya sebagai self-appreciation. Sebaliknya, ketika konsumsi digunakan berulang kali sebagai cara utama untuk memperoleh kelegaan dari tekanan finansial, self-reward berpotensi berubah menjadi financial escape.

Dengan demikian, persoalan utama bukan terletak pada ada atau tidaknya self-reward, tetapi pada alasan seseorang melakukannya dan bagaimana tindakan tersebut memengaruhi kondisi keuangannya. Ketika penghargaan diberikan sebagai bentuk pengakuan terhadap usaha dan tetap berada dalam batas kemampuan finansial, self-reward dapat menjadi bentuk self-appreciation. Namun, ketika penghargaan digunakan untuk menghindari tekanan dan menghasilkan pengeluaran yang tidak terkendali, tindakan tersebut lebih dekat dengan financial escape. Perspektif tersebut menunjukkan bahwa fungsi self-reward sangat bergantung pada interaksi antara kondisi financial stress, motivasi individu, dan kemampuan mengendalikan pengeluaran.

Kesimpulan

Self-reward di tengah financial stress merupakan perilaku yang dapat memiliki dua fungsi, yaitu sebagai bentuk self-appreciation maupun financial escape. Berdasarkan hasil pembahasan, self-reward dapat mencerminkan self-appreciation ketika dilakukan sebagai penghargaan terhadap usaha atau pencapaian diri secara sadar dan tetap disesuaikan dengan kemampuan finansial. Sebaliknya, self-reward dapat mengarah pada financial escape ketika konsumsi digunakan terutama untuk memperoleh kelegaan sementara dari tekanan finansial tanpa mempertimbangkan kondisi dan konsekuensi keuangan.

Secara teoritis, pembahasan ini menunjukkan bahwa financial stress tidak secara otomatis menentukan fungsi self-reward. Respons individu terhadap tekanan finansial dapat berbeda, sehingga motivasi dan kemampuan mengendalikan pengeluaran menjadi aspek penting dalam membedakan self-appreciation dan financial escape. Secara praktis, individu tetap dapat memberikan penghargaan kepada dirinya sendiri ketika mengalami financial stress, tetapi bentuk dan besarnya perlu disesuaikan dengan kondisi finansial. Dengan demikian, self-reward dapat menjadi self-appreciation ketika dilakukan untuk menghargai diri secara sadar dan terukur, tetapi berpotensi menjadi financial escape ketika konsumsi digunakan sebagai sarana utama untuk melarikan diri dari tekanan finansial.

DAFTAR PUSTAKA   

 Wahyuningtyas, D. P. (2015). Mengembangkan regulasi diri melalui pemberian penghargaan. JPUD-Jurnal Pendidikan Usia Dini, 9(1), 93-106.

Oktavianus, J., Wijaya, L. I., & Sutejo, B. S. (2025). Faktor-faktor yang mempengaruhi financial wellbeing generasi Z berpenghasilan di Surabaya, Indonesia. Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi, & Akuntansi (MEA), 9(1), 333-359.

Felia, V. K., & Lesmana, T. (2026). Hubungan Penggunaan Media Sosial Terhadap Perilaku Konsumsi Self-Gifting Pada Perempuan Generasi Z. Selaras: Journal of Psychological Studies, 2(1), 74-89.

Wulandari, F. Y., Sabrina, S., Intan, I., Ariani, T., & Syam, H. (2025). Tekanan ekonomi dan dampaknya terhadap kesehatan mental anggota keluarga. Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik, 2(4), 84-95.

Izudin, M. A. (2025). Interaksi antara Penganggaran Mental, Pengendalian Diri, dan Perilaku Finansial: Dampaknya Terhadap Kesejahteraan Finansial Individu. In Gunung Djati Conference Series (Vol. 56, pp. 1327-1333).

Nuryasman, M. N., & Elizabeth, E. (2023). Generasi sandwich: Penyebab stres dan pengaruhnya terhadap keputusan keuangan. Jurnal Ekonomi, 28(1), 20-41.

Nuryadi, TA, Utami, ES, Yasmin, FN, Ardiansyah, MR, Paryanti, AB, & Sangapan, LH (2026). Pengaruh tren self-reward dan financial self-control terhadap manajemen keuangan pribadi mahasiswa SWINS di tengah tekanan ekonomi. Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner , 3 (02). 316-332

Nalar Artikel
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Artikel Lainnya

Redefinisi Maskulinitas: Bagaimana Tren...
Penulis : Imelda Istilah yearning banyak digunakan Generasi Z di media sosial sepanjang tahun 2025 untuk menyebut kerinduan...
Jum, 2 Oktober 2026 | 4:13
Alasan Akademik dalam Ketidakterlibatan...
Penulis : Ashabul ZikraKesibukan perkuliahan merupakan salah satu alasan yang kerap dikemukakan mahasiswaketika tidak dapat menghadiri rapat, mengikuti...
Jum, 2 Oktober 2026 | 2:06
Kesepian di Tengah Keramaian:...
Penulis : Mutiara Juniarti Grup obrolan aktif, daftar kontak panjang, dan akhir pekan yang tidak sepi undangan. Namun,...
Jum, 2 Oktober 2026 | 1:40
5 PROVINSI DENGAN LUAS...
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Kalimantan pada Agustus 2026. Asap kebakaran bahkan menyebar hingga...
Sel, 29 September 2026 | 1:40