Redefinisi Maskulinitas: Bagaimana Tren Yearning Men Menggeser Norma Toxic Masculinity dalam Relasi Romantis
Redefinisi Maskulinitas: Bagaimana Tren Yearning Men Menggeser Norma Toxic Masculinity dalam Relasi Romantis
Diterbitkan : Jum, 2 Oktober 2026
Penulis : Divisi Humas
630d2cec-b34c-49ed-81e4-87d6d00f0d62

Penulis : Imelda

Istilah yearning banyak digunakan Generasi Z di media sosial sepanjang tahun 2025 untuk menyebut kerinduan yang mendalam terhadap seseorang (D’Orso, 2025). Dari istilah tersebut muncul sebutan yearning men, yaitu laki-laki yang secara terbuka menunjukkan perasaan dan kerinduannya kepada orang yang disukai (Wang, 2025). Sosok ini digambarkan peka, jujur terhadap perasaannya, dan tidak takut terlihat rentan (vulnerable).

Gambaran tersebut berbeda dari maskulinitas konvensional. Maulina dkk. (2024) mencatat bahwa budaya patriarki mengajarkan laki-laki untuk menonjolkan kekuatan dan ketangguhan, serta memandang pengungkapan emosi sebagai kelemahan. Dalam hubungan romantis, norma ini kerap tampak sebagai sikap gengsi, menahan perasaan, dan bersikap dingin. Norma yang menuntut laki-laki menekan emosinya inilah yang sering disebut toxic masculinity.

Popularitas yearning men mengisyaratkan adanya pergeseran. Laporan tren dari aplikasi kencan menunjukkan bahwa kejujuran emosional dan kejelasan niat semakin dihargai oleh generasi muda (MediaBrief, 2025). Keterbukaan emosional laki-laki, yang dahulu dianggap sebagai kelemahan, kini mulai dipandang sebagai kualitas yang bernilai.

Artikel ini bertujuan mengedukasi publik mengenai pergeseran konsep maskulinitas dalam relasi romantis. Secara khusus, artikel ini menjelaskan mengapa keterbukaan emosional laki-laki bukan tanda kelemahan dan bagaimana standar pria ideal berubah. Perlu dicatat bahwa yearning men merupakan istilah populer yang belum diteliti secara langsung. Oleh karena itu, pembahasan bertumpu pada penelitian mengenai konsep yang berdekatan, seperti norma maskulinitas, keterbukaan diri, dan kelekatan.

A. Edukasi Maskulinitas: Membongkar Mitos “Pria Sejati Tidak Boleh Rapuh”

Anggapan bahwa pria sejati tidak boleh rapuh masih banyak dijumpai. Maulina dkk. (2024) meneliti 301 laki-laki berusia 18–25 tahun di Kota Makassar dan menemukan bahwa toxic masculinity paling banyak berada pada kategori sedang (33%) dan tinggi (32%). Temuan ini menunjukkan bahwa norma tersebut masih cukup kuat dianut oleh laki-laki muda.

Norma yang menuntut laki-laki menekan emosi berkaitan dengan kesulitan emosional. Anindita dan Rahmawati (2026) meneliti 349 laki-laki dewasa awal di Indonesia dan menemukan hubungan positif yang signifikan antara toxic masculinity dan alexithymia, yaitu kesulitan mengenali dan mengungkapkan emosi (r = 0,279). Kekuatan hubungannya tergolong lemah. Meskipun demikian, temuan tersebut mengisyaratkan bahwa menekan emosi bukanlah tanda kekuatan, melainkan berkaitan dengan hambatan dalam memahami perasaan sendiri.

Kekhawatiran akan dinilai lemah juga tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan. Bruk dkk. (2018) menemukan bahwa orang cenderung memandang kerentanannya sendiri sebagai kelemahan, tetapi menilai kerentanan orang lain secara lebih positif, misalnya sebagai keberanian. Dengan demikian, ketakutan dianggap “lemah” atau “lebay” sering kali lebih besar daripada penilaian orang lain yang sebenarnya.

Keterbukaan juga berkaitan dengan kualitas hubungan. Pahlawani dan Qonitatin (2025) meneliti 111 dewasa awal yang berpacaran dan menemukan hubungan positif yang kuat antara keterbukaan diri (self-disclosure) dan kepuasan relasi (r = 0,724). Keterbukaan diri memberikan sumbangan sebesar 52,4% terhadap kepuasan relasi. Mengungkapkan rasa sayang dan rindu kepada pasangan dengan demikian memiliki fungsi positif dalam hubungan.

Berdasarkan temuan tersebut, penulis memandang bahwa mengungkapkan cinta, rindu, dan kerentanan (vulnerability) lebih tepat dipahami sebagai tanda kematangan emosional (emotional maturity). Kematangan emosional di sini berarti kemampuan mengenali perasaan dan menyampaikannya secara jujur dan bertanggung jawab. Yearning men menunjukkan bahwa laki-laki dapat tetap maskulin tanpa harus menyembunyikan emosi atau berpura-pura tidak peduli.

Namun, keterbukaan emosional perlu dibedakan dari ketergantungan emosional. Ma’ruf dkk. (2025) menjelaskan bahwa ketergantungan emosional ditandai oleh kebutuhan berlebihan akan rasa aman, ketakutan ditinggalkan, dan kesulitan menetapkan batasan. Maskulinitas yang sehat berarti terbuka terhadap perasaan, sekaligus tetap mampu mengelola emosi secara mandiri dan menghormati batasan pasangan.

B. Pergeseran Pandangan Masyarakat terhadap Standar Pria Ideal

Dulu. Dalam budaya populer, pria idaman kerap digambarkan sebagai sosok yang misterius, jual mahal, dan sulit ditebak, seperti karakter bad boy atau pria yang cool. Sikap acuh tak acuh (nonchalant) dianggap menarik karena dikaitkan dengan kepercayaan diri. Dalam gambaran ini, menunjukkan perasaan terlebih dahulu dipandang sebagai tanda kalah gengsi.

Kini. Standar tersebut mulai bergeser ke arah kejelasan, kepastian, dan rasa aman secara emosional (emotional safety). Laporan Tinder Year in Swipe 2025 mencatat bahwa 64% responden muda menilai kejujuran emosional sebagai hal yang paling dibutuhkan dalam dunia kencan. Sebanyak 60% menginginkan komunikasi yang lebih jelas mengenai niat (MediaBrief, 2025).

Perubahan juga tampak dari sisi laki-laki. Survei Bumble terhadap 26.849 penggunanya di berbagai negara menyebut kecenderungan ini sebagai open-hearted masculinity. Di Filipina, sekitar 30% laki-laki yang disurvei menyatakan telah mengubah perilakunya menjadi lebih terbuka dan berani menunjukkan kerentanan (Dy-Zulueta, 2023).

Penelitian turut menunjukkan bahwa sikap dingin tidak menguntungkan bagi hubungan. Hartono dan Rahayu (2025) meneliti 204 dewasa awal yang menjalani hubungan jarak jauh. Kelekatan menghindar (avoidant attachment), yaitu kecenderungan menjaga jarak emosional, berhubungan negatif cukup kuat dengan kepuasan hubungan (r = –0,584). Hubungan negatif pada kelekatan cemas (anxious attachment) lebih lemah (r = –0,233).

Keterbukaan emosional juga bermakna bagi laki-laki sendiri. Wahring dkk. (2026) mengemukakan bahwa laki-laki cenderung memperoleh lebih sedikit keintiman dan dukungan emosional di luar hubungan romantis. Hal ini mengisyaratkan bahwa kemampuan untuk terbuka kepada pasangan penting bagi kesejahteraan laki-laki, bukan hanya bagi pasangannya.

Dalam kerangka ini, laki-laki yang berani mengesampingkan gengsi dan menunjukkan usaha (effort) semakin dipandang bernilai. Ketulusan dan kejelasan memberikan rasa aman, sedangkan sikap sulit ditebak menimbulkan ketidakpastian.

Meskipun demikian, pergeseran ini perlu dibaca secara hati-hati. Data tren di atas berasal dari survei perusahaan aplikasi kencan, yang tidak mewakili seluruh masyarakat dan tidak selalu menjelaskan sampelnya. D’Orso (2025) juga mengkritik yearning yang ditampilkan demi tampilan estetis di media sosial. Wang (2025) mengingatkan bahwa kerinduan hanyalah tahap awal, sedangkan hubungan yang nyata menuntut komunikasi dan kehadiran yang konsisten. Selain itu, temuan Maulina dkk. (2024) menunjukkan bahwa norma lama masih dianut cukup kuat. Tren yearning men dengan demikian lebih tepat dipahami sebagai tanda awal pergeseran, bukan bukti bahwa norma lama telah hilang.

Kesimpulan

Tren yearning men mencerminkan pergeseran cara memandang maskulinitas dalam relasi romantis. Norma lama menuntut laki-laki menekan emosi, menjaga gengsi, dan bersikap dingin. Penelitian menunjukkan bahwa norma tersebut berkaitan dengan kesulitan mengenali emosi, sedangkan keterbukaan diri berkaitan dengan hubungan yang lebih memuaskan. Mengungkapkan rasa sayang, rindu, dan kerentanan dengan demikian lebih tepat dipahami sebagai tanda kematangan emosional, bukan kelemahan.

Standar pria ideal juga mulai bergeser, dari sosok yang misterius dan sulit ditebak menjadi sosok yang jujur, jelas, dan memberikan rasa aman. Namun, bukti mengenai pergeseran ini masih terbatas pada laporan tren dan belum diteliti secara langsung, sementara norma lama masih bertahan.

Secara praktis, laki-laki tidak perlu memandang pengungkapan perasaan sebagai hal yang memalukan. Masyarakat juga dapat berhenti melabeli laki-laki yang ekspresif sebagai “lemah” atau “lebay”. Maskulinitas yang sehat mencakup keterbukaan terhadap perasaan, kemampuan mengelola emosi secara mandiri, dan penghormatan terhadap batasan pasangan. Penelitian empiris lebih lanjut diperlukan untuk menguji pergeseran ini, khususnya dalam konteks Indonesia.

Daftar Pustaka

Anindita, T., & Rahmawati, A. (2026). Ketika maskulinitas menekan emosi: Toxic masculinity dan alexithymia pada pria dewasa awal. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 15(02), 189–196.

Bruk, A., Scholl, S. G., & Bless, H. (2018). Beautiful mess effect: Self–other differences in evaluation of showing vulnerability. Journal of Personality and Social Psychology, 115(2), 192–205.

D’Orso, M. I. (2025, 11 November). 2025 was the year of “yearning”: Gen Z’s new language of longing. nss magazine.

Dy-Zulueta, D. (2023, 10 Desember). ‘Open-hearted masculinity’: Bumble reveals top dating trends in 2024. Philstar.com.

Hartono, S. P., & Rahayu, M. N. M. (2025). Psychological dynamics in long-distance relationships: Anxious and avoidant attachment styles as predictors of relationship satisfaction in early adulthood. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 13(3), 432–438.

Ma’ruf, M. Q., Erianto, A., Mayasita, T., Faridatuzzakiah, & Wibowo, D. S. (2025). A literature review: Is it love or emotional dependency. Prosiding Simposium Penelitian Sarjana, 3(1), 28–40.

Maulina, Y., Nurhikmah, & Saudi, A. N. A. (2024). Gambaran toxic masculinity pada pria dewasa awal di Kota Makassar. Jurnal Psikologi Karakter, 4(2), 552–557.

MediaBrief. (2025, 3 Desember). Tinder Year in Swipe 2025 reveals dating trends for 2026. MediaBrief.

Pahlawani, N., & Qonitatin, N. (2025). Peran self-disclosure pada kepuasan relasi dewasa awal yang berpacaran. Jurnal EMPATI, 14(2), 112–117.

Wahring, I. V., Simpson, J. A., & Van Lange, P. A. M. (2026). Romantic relationships matter more to men than to women. Behavioral and Brain Sciences, 49, e88.

Wang, H.-C. (2025, 9 Desember). When wanting counts as depth: How male yearning became a cultural craze. The Observer.

Nalar Artikel
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Artikel Lainnya

Alasan Akademik dalam Ketidakterlibatan...
Penulis : Ashabul ZikraKesibukan perkuliahan merupakan salah satu alasan yang kerap dikemukakan mahasiswaketika tidak dapat menghadiri rapat, mengikuti...
Jum, 2 Oktober 2026 | 2:06
Self-Reward di Tengah Financial...
Penulis : Rezky Awaliah Ramadhana Arifin Tekanan terhadap kondisi keuangan menjadi salah satu persoalan yang dapat memengaruhi kehidupan...
Jum, 2 Oktober 2026 | 1:49
Kesepian di Tengah Keramaian:...
Penulis : Mutiara Juniarti Grup obrolan aktif, daftar kontak panjang, dan akhir pekan yang tidak sepi undangan. Namun,...
Jum, 2 Oktober 2026 | 1:40
5 PROVINSI DENGAN LUAS...
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Kalimantan pada Agustus 2026. Asap kebakaran bahkan menyebar hingga...
Sel, 29 September 2026 | 1:40