Merebaknya pandemi virus covid-19 mengharuskan pemerintah untuk menerapkan social distancing sehingga berakibat pada proses belajar dan perkuliahan secara tatap muka dialihkan ke sistem daring atau online. Perubahan proses perkuliahan karena social distancing membutuhkan penyesuaian yang akan berdampak secara psikologis seperti stress, cemas, dan kesepian. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Braucher (2020) bahwa perubahan rutinitas karena social distancing dapat menyebabkan seseorang mengalami kecemasan dan depresi. Ketika seseorang merasakan stress, cemas, maupun depresi maka akan mempengaruhi proses perkuliahan yang baik secara tatap muka maupun daring.
Well-being (kesejahteraan) merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan seseorang dalam belajar. Seseorang yang sejahtera dan sehat secara mental akan melakukan proses pembelajaran yang lebih efektif. Hidayah, Pali, Ramli, & Hanurawan (2016) menyatakan bahwa well-being mempengaruhi proses belajar dan hasil belajar seseorang.
Well-being biasa dikaitkan dengan kebahagiaan, kebermaknaan, dan sehat mental. Well-being menurut Ryff (2017) merangkum konsep beberapa teori psikologi seperti kepribadian yang matang (Allport), aktualisasi diri (Maslow), kebermaknaan hidup (Frankl), fully functioning person (Rogers), individuasi (Jung), dan personal development (Erikson). Hal inilah yang membuat well-being menjadi penting meskipun kesejateraan dan kesehatan mental masih belum menjadi fokus utama pendidikan.

Well-being dalam belajar dapat diwujudkan meskipun dalam bentuk perkuliahan secara daring. Konu, Alanen, Lintonen, & Rimpela pada tahun 2002 mengembangkan konsep school well-being yang memiliki indikator untuk membangun well-being di sekolah. Namun konsep school well-being juga dapat diterapkan dalam proses perkuliahan daring. Empat dimensi yang dapat dilakukan untuk mewujudkan well-being dalam belajar yaitu having, loving, being, dan health.
Having
Having merupakan kondisi lingkungan belajar yang memadai ketika kuliah daring berlangsung. Kondisi lingkungan belajar yang baik meliputi setting ruangan, fasilitas, suhu, kebisingan, keamanan, jadwal perkuliahan, dan jaringan internet.
Loving
Loving merupakan kualitas hubungan sosial dengan orang-orang terdekat baik antara mahasiswa dan dosen maupun sesama mahasiswa. Social distancing yang diberlakukan saat ini mengharuskan untuk membatasi interaksi antar individu namun tidak membatasi hubungan sosial dan emosionall dengan orang terdekat seperti dukungan orang tua dan teman sebaya.
Being
Being merupakan sarana untuk pemenuhan diri sendiri mencakup kemungkinan untuk setiap orang untuk belajar sesuai dengan sumber daya dan kemampuannya sendiri. Hal ini bisa diwujudkan dengan memberikan kebebasan kepada mahasiswa dalam mengerjakan tugas sesuai kemampuan dan kreativitas.
Health
Health merupakan kondisi tidak adanya penyakit dan tubuh tetap dalam kondisi bugar. Tentu saja, untuk merasakan sehat mental dan sejahtera diperlukan kondisi fisik yang sehat karena tubuh mempengaruhi pikiran dan pikiran mempengaruhi tubuh.
Kebijakan social distancing secara tidak langsung mempengaruhi proses perkuliahan. Metode daring adalah salah satu pilihan agar perkuliahan tetap berjalan. Namun, meskipun perkuliahan tidak dilakukan secara tatap muka, bukan berarti faktor kenyamanan atau well-being dalam belajar tidak lagi dipertimbangkan. Adanya having, loving, being, dan health dalam proses perkuliahan daring diharapkan dapat menjadi upaya peningkatan kualitas belajar serta untuk menjaga kesehatan mental. Pemikiran, perilaku, dan emosi seseorang dapat mempengaruhi kesehatan fisik. Ketika kesehatan fisik terganggu, maka tubuh lebih mudah terserang penyakit. Semoga dunia lekas membaik.
Sumber:
Braucher, D. (22 Maret 2020). How to Survive “Social Distancing” and “Shelter in Place”. Dikutip dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/life-smarts/202003/how-survive-social-distancing-and-shelter-in-place.
Hidayah, N. H., Pali, M., Ramli, M., & Hanurawan, F. (2016). Students’ Well-Being Assessment at School. Journal of Educational, Health and Community Psychology, 5(1), 62. https://doi.org/10.12928/jehcp.v5i1.6257
Konu, A., Alanen, E., Lintonen, T., & Rimpelä, M. (2002). Factor structure of the school well-being model. Health Education Research, 17(6), 732–742.
Ryff, C. D. (2017). Eudaimonic well-being, inequality, and health: Recent findings and future directions. International Review of Economics, 64(2), 159–178. https://doi.org/10.1007/s12232-017-0277-4