
Gambaran Teknologi SAJAK Smart Jacket sebagai Alat Bantu Mobilitas Tunanetra Berbasis Multisensor
Indra penglihatan adalah salah satu sumber informasi yang vital bagi manusia. Jumlah informasi yang diterima manusia dari lingkungan adalah 1% dari rasa, 1,5% dari kulit, 3,5% dari bau, 11% dari pendengaran, dan 83% dari penglihatan (Shuruti, 2011). Mata merupakan indera penglihatan yang berfungsi sebagai perekam keadaan/kondisi di sekitar yang kemudian sinyal hasil rekaman ini diolah oleh otak, sehingga manusia bisa mengerti tentang apa yang dilihatnya. Sebagai konsekuensinya, bila seseorang mengalami gangguan pada indra penglihatan, maka kemampuan aktivitas akan terbatas, karena informasi yang diperoleh akan jauh berkurang dibandingkan mereka yang berpenglihatan normal (Aktanto, 2015).
Kebutaan merupakan masalah serius yang ada di Indonesia. Informasi dari Kurniawan dalam WHO tahun 2010 menyebutkan bahwa kebutaan di Indonesia menempati posisi kedua di dunia, dari 45 juta penduduk dunia yang mengalami kebutaan, 2,5 jutanya merupakan penduduk Indonesia. Sementara itu, data kementerian kesehatan RI (2013) menyataan bahwa jumlah penderita kebutaan dan penglihatan lemah (low vision) di Indonesia mencapai tiga juta jiwa. Pada tahun 2013 jumlah penderita kebutaan tercatat lebih dari 900 ribu jiwa sedangkan penderita penglihatan lemah mencapai lebih dari 2,1 juta jiwa. Jumlah penglihatan lemah (low vision) dan kebutaan meningkat pesat pada kelompok penduduk umur 45 tahun ke atas dengan rata-rata peningkatan sekitar dua sampai tiga kali lipat setiap 10 tahunnya. Jumlah lemah penglihatan dan kebutaan ditemukan pada penduduk kelompok umur 75 tahun ke atas sesuai dengan adanya peningkatan proses degeneratif pada tambahan usia (BPDANP Kesehatan, 2013).
Umumnya untuk bergerak dan berpindah tempat penyandang tunanetra menggunakan alat bantu tongkat untuk mengetahui benda yang ada di sekitarnya. Tongkat digunakan pada saat berada di luar ruangan, tetapi pada saat di dalam ruangan jarang digunakan karena dapat merusak pecah belah yang berada di ruangan. Kekurangan lain dari tongkat yaitu biasanya hanya untuk meraba benda-benda/ halangan yang berada di bawah, dan halangan seperti mobil/truk sering tidak terdeteksi oleh tongkat. Penyandang tunanetra juga mengalami kendala untuk menentukan jarak objek yang ada di sekitarnya, misalnya teman yang diajak bicara dan lain-lain. Keahlian dalam memakai tongkat ini memerlukan proses pelatihan yang terstruktur agar tunanetra dapat menggunakan tongkat dengan baik (Aqli, 2014).
Seiring dengan semakin canggihnya era teknologi maka semakin banyak alat yang diciptakan untuk memudahkan mobilitas seorang tunanetra. Salah satunya adalah alat navigasi berbasis sensor ultrasonik yang diciptakan oleh Andreas dan Wendoto. Alat ini berbentuk tongkat dengan sebuah sensor di tengahnya (Andreas, 2017). Kekurangan dari alat tersebut adalah keterbatasan dalam pendeteksian halangan yaitu pada satu arah saja. Beberapa penelitian semisal juga dilakukan oleh Setiawan (Setiawan, 2017) dan Heryanto dan Suprijono (Heryanto, 2011). Alat yang mereka kembangkan juga menggunakan tongkat dan sensor yang dapat membantu tunanetra melakukan mobilitas. Sementara kharisma menambahkan teknologi RFID pada tongkat tunanetra (Aqli, 2014). Selain tongkat, beberapa riset juga mencoba memanfaatkan teknologi smartphone. Hal ini dapat dicontohkan dalam riset perwira yang menggunakan HP berbasis android untuk mendeteksi jalan berlubang bagi tunanetra (Perwira, 2018).
Berdasarkan kelemahan serta kekurangan pada penelitian sebelumnya, maka perlu dikembangkan alat bantu mobilitas tunanetra yang dapat mendeteksi halangan pada banyak sisi. Namun dalam pengembangannya kita tidak lagi menggunakan tongkat tetapi jaket berbasis multisensor. Jaket ini dilengkapi dengan berbagai macam sensor yang dapat memaksimalkan kerja jaket dalam hal mobilitas tunanetra. Alat ini menggunakan sensor ultrasonik sebagai pembaca data jarak antara si pengguna jaket dalam hal ini tunanetra dan objek yang berada di sekitarnya. Alat ini juga menggunakan kamera sebagai pembaca objek yang ada di sekitar tunanetra yang kemudian akan dikeluarkan dalam bentuk suara melalui earphone. Selain itu, penggunaan jaket pintar ini sangat mudah sehingga mempermudah tunanetra menggunakannya tanpa harus latihan terlebih dahulu seperti penggunaan tongkat yang memerlukan latihan khusus untuk membuat pengguna terbiasa. Pengembangan alat bantu mobilitas tunanetra dalam hal ini yang digunakan adalah jaket diharapan dapat membantu mobilitas tunanetra dengan lebih baik lagi dan mempermudah segala aktivitas tunanetra baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan.
DAFTAR PUSTAKA
Aktanto. (2015). Multi Ultrasonic Electronic Travel AIDS (MU-ETA) sebagai Alat Bantu Penunjuk Jalan Bagi Tuna Netra. Jurnal BIOSAINS PASCASARJANA. 18(2):1-13.
Andreas, & Wendanto, W. (2017). Tongkat Bantu Tunanetra Pendeteksi Halangan Menggunakan Sensor Ultrasonik Berbasis Mikrokontroler Arduino. Go Infotech: Jurnal Ilmiah STMIK AUB, 22(1).
Aqli, K. C. Nurussa’adah, N. & Abidin, Z. (2014). Perancangan Alat Bantu Mobilitas Bersuara dalam Ruangan Bagi Tunanetra Berbasis RFID (Radio Frequency Identification). Jurnal Mahasiswa TEUB, 1(5).
BPDANP Kesehatan. (2013). Riset Kesehatan Dasar. www.depkes.go.id [10 November 2019].
Heryanto, M. A. & Suprijono, H. (2011). Aplikasi Gelombang Ultrasound pada Tongkat Putih untuk Peringatan Dini Bagi Penyandang Tuna Netra. JURNAL DIAN, 11(1).
Perwira, R. W. (2018). Deteksi Jalan Berlubang Menggunakan Sensor Ultrasonik Berbasis Android (Undergraduate, University of Muhammadiyah Malang).
Setiawan, C. (2017). Prototype Alat Bantu Tuna Netra Berupa Tongkat Menggunakan Arduino dan Sensor Ultrasonik. J-INTECH, 5(02), 82–90.