Peraih Penghargaan Nobel Termuda: Malala Yousafzai, Gadis dengan Tekad untuk Sekolah
Peraih Penghargaan Nobel Termuda: Malala Yousafzai, Gadis dengan Tekad untuk Sekolah
Diterbitkan : Kam, 31 Desember 2020
Penulis : Divisi Humas
images-5

Sumber : Gambar

Bulan Oktober 2014, sorotan dunia difokuskan pada masalah hak-hak anak ketika Hadiah Nobel Perdamaian diberikan bersama kepada Malala Yousafzai dari Pakistan dan Kailash Saryarthi dari India. Malala Yousafzai, seorang gadis Pashtun saat ini berusia 23 tahun dari Pakistan, tergabung dalam daftar wanita yang telah dihormati oleh Komite Nobel atas upayanya untuk memajukan perdamaian dunia. Dia mendesak agar perempuan diperbolehkan untuk memperoleh pendidikan. Pada 2014, diusia ke 17 tahun dia menjadi peraih penghargaan Nobel Perdamaian termuda karena usahanya (KOMPAS.com, 2018).
Ekstremisme Agama di Pakistan
Untuk memahami kisah Malala dan perjuangannya untuk hak anak atas pendidikan, kita perlu memahami konteks politik, budaya, geografis, dan sejarah Pakistan, khususnya Provinsi KhyberPakhtunkhwa di Pakistan. Orang-orang di wilayah ini, yang dikenal sebagai Pashtun dengan bahasa, adat istiadat dan warisan budaya yang sama dengan orang-orang Afghanistan. Seperti tetangga terdekatnya, wilayah ini mengalami beberapa dekade ekstremisme agama, intoleransi, militansi, terorisme, dan kekerasan (Tolentino, Uhl, dan Ahmad, 2015).
Ketika Malala Yousafzai lahir pada 12 Juli 1997 di Lembah Swat Pakistan, ekstremisme agama telah mengakar kuat di seluruh negeri, dan khususnya di lembah Swat. Struktur pemerintahan lemah atau tidak ada sehingga gagal memberikan keamanan. Kelompok militan Taliban Pakistan meneror orang dengan impunitas. Para ekstremis melarang banyak hal seperti memiliki televisi dan memainkan musik dan menerapkan hukuman yang keras bagi mereka yang melanggar perintah mereka. Dan mereka bilang anak perempuan tidak bisa lagi bersekolah. Banyak orang, termasuk keluarga Yousafzai, meninggalkan Lembah Swat dan menjadi pengungsi di kota-kota lain. (malala.org, 2020)
Aktivisme Malala untuk Hak Anak atas Pendidikan
Malala mendapatkan prinsip tentang pendidikan dan politik dari ayahnya, Ziauddin Yousafzai, yang mendirikan Sekolah Khushal untuk anak perempuan. Ketika berusia 11 tahun, Malala membuat blog dengan nama samaran Gul Makar, sebuah kata Pashto yang berarti cornflower, untuk BBC Urdu Service yang mendokumentasikan pengalamannya di bawah pendudukan Taliban dan keyakinannya tentang pendidikan untuk anak perempuan. Entri pertamanya, berjudul “Saya Takut,” muncul pada tanggal 3 Januari 2009. Saat itulah Malala menyadari kekuatan suara dan medianya karena kata-katanya mendapat perhatian internasional. Bahkan setelah sekolahnya ditutup, Malala terus menulis pada blognya dan berpartisipasi dalam wawancara, membuat pernyataan berani seperti “Mereka tidak bisa menghentikan saya, saya akan mendapatkan pendidikan saya baik di rumah, sekolah maupun di tempat lain” (Tolentino, Uhl, dan Ahmad, 2015).
Pada 9 Oktober 2012 di Mingora, ketika Malala berusia 14 tahun sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah ketika militan TTP berkerudung berhenti dan naik ke bus sekolah. Mereka menuntut agar anak sekolah lain di bus sekolah mengidentifikasi Malala dan bertanya, “Siapa Malala?”. Setelah diidentifikasi, dia ditembak di kepala. Meskipun peluru menembus otaknya dan bersarang di tulang punggungnya, dia selamat dari penembakan itu tetapi terluka parah. Dua gadis lainnya juga terluka selama penembakan itu; mereka juga selamat. (Chai, Gordon, dan Johnson, 2013)
Malala selamat dari serangan itu menjadi lebih kuat dan terus menjadi vokal aktivis 101 juta anak di seluruh dunia yang menurut UNICEF “Insiden ini menjadi katalis bagi advokasi nasional dan internasional untuk hak anak atas pendidikan”. Gordon Brown, Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan Global, meluncurkan petisi PBB yang mengarah pada ratifikasi RUU Hak atas Pendidikan pertama Pakistan Pada tahun yang sama, Malala ditampilkan dalam Majalah Time edisi April 2013 sebagai salah satu dari “100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia” Malala diundang untuk berbicara di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang pentingnya hak anak-anak atas pendidikan. (Tolentino, Uhl, dan Ahmad, 2015).
Malala memperoleh Penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun berikutnya ketika dia berusia 17 tahun. “Penghargaan ini tidak hanya untuk saya. Ini untuk semua anak yang ingin mendapatkan pendidikan. Ini untuk semua anak yang ketakutan dan menginginkan perdamaian” katanya. “Ini untuk semua anak yang tidak dapat menyuarakan pendapatnya, namun menginginkan perdamaian” tambahnya. Pada tahun itu pula, lembaga amal Malala Fund dibentuk oleh Malala dengan bantuan ayahnya. Lembaga tersebut dibentuk untuk mengolah potensi diri dan memberdayakan anak perempuan agar mampu menjadi pemimpin masa depan. Agen perubahan Malala selalu mendorong perempuan untuk menjadi agen perubahan untuk komunitas mereka (KOMPAS.com, 2018).

Referensi
Chai, J., Gordon, R., & Johnson, P. A. 2013. Malala Yousafzai: A Young Female Activist. WOMEN’S HEALTH.

Tolentino, E. P., Uhl, J. O., & Ahmad, I. 2015. The Nobel Peace Prize: Malala, A Girl Determined to Go to School. Social Education, 79(1), 18-21.

Yasinta, Veronika. 2018. Biografi Tokoh Dunia: Malala Yousafzai, Melantang bagi Pendidikan Anak. Dikutip dari https://internasional.kompas.com/read/2018/07/12/17332191/biografi-tokoh-dunia-malala-yousafzai-melantang-bagi-pendidikan-anak?page=all [21 Desember 2020]

Malala Fund. 2020. Malala’s Story. Dikutip dari https://malala.org/malalas-story [21 Desember 2020]

Nalar Artikel
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

TOP 10 KAMPUS PERAIH...
(Peringkat disusun berdasarkan Sistem Klasemen Olimpiade: Emas > Perak > Perunggu) Dalam beberapa tahun terakhir, kualitas perguruan tinggi...
Rab, 1 April 2026 | 1:22
Rapat Kerja Pengurus Harian...
Penulis : Divisi humas Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Penalaran Universitas Negeri Makassar (UNM) menyelenggarakan Rapat Kerja Pengurus Harian...
Sen, 2 Maret 2026 | 11:06
Penutupan Musyawarah Besar ke-XVII...
Musyawarah Besar XVII LPM Penalaran UNM Ditutup, Estafet Kepemimpinan Resmi Beralih Musyawarah Besar (Mubes) XVII Pengurus Harian Lembaga...
Kam, 25 Desember 2025 | 12:38
Penetapan Ketua Umum LPM...
Muhammad Ammar Latif Resmi Ditetapkan sebagai Ketua Umum LPM Penalaran UNM Periode 2025/2026 Muhammad Ammar Latif resmi ditetapkan...
Kam, 25 Desember 2025 | 12:37