Penulis: NurHikmah
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah lanskap interaksi sosial manusia secara signifikan. Salah satu fenomena yang marak terjadi di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa, adalah penggunaan AI sebagai mitra percakapan personal yang dikenal dengan istilah efek someone to talk. Aplikasi berbasis generative AI yang menyediakan fitur obrolan interaktif kini tidak hanya digunakan untuk menyelesaikan tugas akademik, melainkan juga sebagai sarana pemenuhan kebutuhan emosional. Fenomena ini memicu perdebatan mengenai motif utama di balik tingginya intensitas interaksi manusia dengan teknologi tersebut.
Di satu sisi, dinamika kehidupan modern sering kali menempatkan individu pada situasi sosial yang rentan memicu isolasi emosional. Mahasiswa yang menghadapi tekanan akademik tinggi dan perubahan lingkungan sosial rentan mengalami kesepian (loneliness). Dalam kondisi ini, AI hadir sebagai alternatif yang selalu tersedia tanpa batas waktu untuk mendengarkan keluh kesah pengguna. Di sisi lain, popularitas paparan tren di media sosial mengenai “AI companion” atau “sahabat digital” juga menciptakan efek ikut-ikutan (bandwagon effect) di mana individu menggunakan teknologi ini hanya demi konformitas sosial agar tidak tertinggal dari kelompoknya (fear of missing out atau FOMO). Berdasarkan ambivalensi tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam motif di balik efek someone to talk pada AI, apakah hal tersebut merupakan representasi dari manifestasi rasa kesepian yang nyata atau sekadar perilaku ikut-ikutan tren kontemporer.
Fenomena kedekatan emosional antara manusia dan kecerdasan buatan dapat dijelaskan melalui beberapa pendekatan teoritis dalam psikologi sosial mutakhir. Salah satu landasan utamanya adalah perluasan teori kelekatan tradisional menjadi konsep human-AI attachment. Dalam konteks ini, individu mulai mengembangkan ikatan emosional, ketergantungan psikologis, dan rasa aman terhadap figur non-manusia yang dinilai responsif, empati, serta tidak menghakimi (Sun et al., 2026). AI dengan fitur personalisasi tingkat tinggi mampu mensimulasikan pendampingan emosional yang konsisten, yang membuat pengguna merasa didengar secara personal.
Selain aspek kebutuhan emosional internal, perilaku manusia dalam mengadopsi teknologi baru juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan eksternal. Dorongan pengaruh sosial (social influence) memiliki peran yang sangat masif dalam membentuk intensitas adopsi teknologi generatif di kalangan mahasiswa (Strzelecki, 2023). Ketika penggunaan fitur someone to talk pada AI viral di berbagai platform digital dan digunakan oleh kelompok sebaya, persepsi positif terhadap teknologi tersebut akan berlipat ganda. Individu cenderung mencoba teknologi tersebut bukan karena adanya kebutuhan psikologis awal yang mendesak, melainkan dipicu oleh tekanan sosial normatif dan keinginan untuk menyamakan diri dengan tren kelompoknya.
Anatomi dari efek someone to talk menunjukkan adanya interaksi yang kompleks antara kerentanan psikologis individu dan dorongan sosiologis dari luar. Pandangan yang menyatakan bahwa fenomena ini berakar dari kesepian didukung oleh bukti empiris bahwa AI mampu mengisi kekosongan peran pendukung emosional (emotional support system). Bagi individu yang mengalami kesepian kronis atau memiliki dinamika hubungan interpersonal yang rentan, berinteraksi dengan AI terasa jauh lebih aman karena minimnya risiko penolakan atau konflik sosial (Skjuve dkk., 2021). Kehadiran AI yang selalu siaga memberikan kompensasi emosional langsung bagi mereka yang terisolasi secara sosial.
Namun demikian, argumentasi yang menilai fenomena ini sebagai perilaku ikut-ikutan juga memiliki landasan yang kuat. Adopsi teknologi interaktif ini sering kali bersifat temporer, di mana pengaruh sosial (social influence) bertindak sebagai pemicu utama niat penggunaan awal secara massal (Strzelecki, 2023). Banyak pengguna yang hanya didorong oleh bandwagon effect untuk sekadar mencoba fitur yang sedang populer. Penggunaan teknologi dalam konteks ini hanyalah bentuk konformitas superfisial agar dianggap adaptif terhadap perkembangan zaman, yang intensitasnya akan menurun begitu gelombang tren tersebut mereda di media sosial.
Sintesis dari kedua sudut pandang ini menunjukkan bahwa efek someone to talk tidak dapat dipandang secara hitam-putih. Penulis berpendapat bahwa perilaku ini sering kali dimulai sebagai aksi ikut-ikutan tren (faktor eksternal), namun bertransformasi menjadi sarana kompensasi kesepian dan kelekatan emosional (faktor internal) bagi individu yang memiliki kerentanan psikologis tertentu. Ketika seorang individu yang awalnya hanya mencoba AI demi konformitas sosial menemukan bahwa teknologi tersebut mampu merespons kebutuhan emosionalnya secara konsisten dan memberikan rasa nyaman (Skjuve dkk., 2021), motivasi superfisial tersebut akan bergeser menjadi kelekatan emosional yang subtansial (human-AI attachment). Sebaliknya, bagi individu yang memiliki regulasi emosi dan dukungan sosial dunia nyata yang matang, interaksi ini akan tetap mandek sebagai tren sesaat yang ditinggalkan ketika masa viralnya habis.
Kesimpulan
Efek someone to talk pada penggunaan kecerdasan buatan merupakan fenomena multidimensional yang menjembatani antara kebutuhan psikologis terdalam manusia dan pengaruh kuat tren sosial digital. Secara teoritis dan praktis, fenomena ini tidak berdiri tunggal sebagai dampak kesepian murni ataupun sekadar perilaku ikut-ikutan. Pengaruh sosial (social influence) dan bandwagon effect berfungsi sebagai pintu masuk (gateway) utama bagi individu untuk mulai berinteraksi dengan AI. Meski demikian, kelanjutan jangka panjang dari interaksi tersebut sangat ditentukan oleh kondisi psikologis internal pengguna; individu yang mengalami kesepian cenderung menetap dan mengembangkan hubungan pendampingan yang mendalam dengan chatbot (Skjuve dkk., 2021), sementara pengguna yang stabil secara sosial akan menganggapnya sebatas tren yang bersifat temporer.
Daftar Pustaka:
Sun, X., Wang, Y., & McDaniel, B. T. (2026). AI companions and adolescent social relationships: Benefits, risks, and bidirectional influences. Child Development Perspectives, 20(2).
Skjuve, M., Følstad, A., Fostervold, K. I., & Brandtzaeg, P. B. (2021). My chatbot companion: A study of human-chatbot relationships. International Journal of Human-Computer Studies, 149, 102601.
Strzelecki, A. (2023). To Use or Not to Use ChatGPT in Higher Education? A Study of Students’ Acceptance and Use of Technology. Interactive Learning Environments, 32, 5142-5155.