Penulis : Hardiansyah Rasyid
Setiap hari manusia mengambil ratusan keputusan, mulai dari memilih makanan, menilai orang lain, hingga menentukan arah karier. Hampir semua orang merasa tahu alasan di balik keputusannya. Namun, penelitian psikologi selama lima dekade terakhir menunjukkan bahwa keyakinan itu sering kali keliru: kita kerap tidak memiliki akses langsung terhadap proses mental yang sesungguhnya menggerakkan pikiran dan perilaku kita.
Kemampuan untuk memikirkan pikiran sendiri dikenal sebagai metakognisi. Flavell (1979) mendefinisikannya sebagai pengetahuan dan pengendalian seseorang atas proses kognitifnya, yang mencakup kemampuan memantau apa yang diketahui dan tidak diketahui. Metakognisi berperan penting dalam belajar, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan, karena memungkinkan seseorang mendeteksi kesalahan dan menyesuaikan strategi berpikirnya (Dunlosky & Metcalfe, 2009).
Masalahnya, kemampuan ini ternyata terbatas. Nisbett dan Wilson (1977) dalam kajian klasik mereka menemukan bahwa partisipan penelitian sering memberikan alasan yang meyakinkan namun keliru tentang penyebab perilakunya sendiri. Temuan serupa muncul dalam berbagai penelitian lanjutan, misalnya fenomena choice blindness (Johansson dkk., 2005) dan introspection illusion (Pronin, 2009). Penelitian ilmu saraf yang lebih mutakhir juga menunjukkan bahwa kemampuan metakognitif berbeda-beda antarindividu dan dapat dipisahkan dari kemampuan menyelesaikan tugas itu sendiri (Fleming & Dolan, 2012; Rouault dkk., 2018).
Kesenjangan antara cara kita berpikir dan cara kita mengira kita berpikir ini memiliki konsekuensi nyata. Ia memengaruhi kualitas keputusan pribadi, cara kita menilai orang lain, hingga cara organisasi dan masyarakat berdebat. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk (1) menjelaskan konsep metakognisi dan batas-batas introspeksi berdasarkan kajian pustaka, (2) menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan manusia tidak selalu memahami cara berpikirnya sendiri, dan (3) menawarkan langkah praktis untuk meningkatkan kesadaran berpikir dalam kehidupan sehari-hari.
1. Metakognisi: berpikir tentang berpikir
Flavell (1979) menyusun model pemantauan kognitif yang terdiri atas empat unsur, yaitu pengetahuan metakognitif, pengalaman metakognitif, tujuan (tugas), dan tindakan (strategi). Dua unsur pertama paling erat kaitannya dengan topik ini: pengetahuan metakognitif adalah apa yang kita ketahui tentang cara kita berpikir, sedangkan pengalaman metakognitif adalah perasaan yang muncul saat berpikir, seperti rasa yakin atau ragu. Dunlosky dan Metcalfe (2009) menambahkan bahwa metakognisi bekerja melalui dua proses: pemantauan (monitoring) dan pengendalian (control). Seseorang yang merasa belum memahami materi, misalnya, akan memutuskan untuk membacanya ulang.
Namun, pemantauan ini tidak selalu akurat. Fleming (2021) dalam bukunya Know Thyself: The Science of Self-Awareness menjelaskan bahwa otak tidak “melihat” proses berpikirnya secara langsung, tetapi membuat perkiraan tentang dirinya sendiri, mirip seperti cara otak memperkirakan keadaan dunia luar. Karena berupa perkiraan, hasilnya bisa meleset.
2. Batas introspeksi: kita sering mengarang alasan
Nisbett dan Wilson (1977) menyimpulkan bahwa ketika orang menjelaskan penyebab perilakunya, mereka sering tidak benar-benar mengamati proses mentalnya. Mereka justru menggunakan teori umum tentang apa yang “masuk akal” sebagai penyebab. Dalam salah satu percobaan, pengunjung toko diminta memilih satu dari empat pasang stoking yang sebenarnya identik. Stoking paling kanan dipilih hampir empat kali lebih sering daripada yang paling kiri, tetapi tidak ada partisipan yang menyebut posisi sebagai alasan, dan hampir semuanya menyangkal pengaruh posisi ketika ditanya langsung.
Johansson dkk. (2005) memperkuat temuan ini melalui fenomena choice blindness. Partisipan diminta memilih wajah yang paling menarik dari dua foto. Peneliti diam-diam menukar foto tersebut, lalu meminta partisipan menjelaskan pilihannya. Hasilnya, tidak lebih dari 26% penukaran yang disadari; sebagian besar partisipan justru dengan lancar memberikan alasan untuk wajah yang sebenarnya tidak mereka pilih.
Pronin (2009) menyebut kecenderungan ini sebagai introspection illusion, yakni keyakinan bahwa introspeksi memberikan akses langsung terhadap isi pikiran, sementara perilaku orang lain dinilai dari tindakan mereka. Akibatnya, kita merasa diri sendiri objektif tetapi menganggap orang lain bias. Wilson (2002) dalam Strangers to Ourselves menyebut bagian besar proses mental ini sebagai “ketidaksadaran adaptif” yang bekerja cepat dan efisien, tetapi tersembunyi dari kesadaran.
3. Dua sistem berpikir
Kahneman (2011) dalam Thinking, Fast and Slow membedakan Sistem 1 yang cepat, otomatis, dan intuitif, dengan Sistem 2 yang lambat, sadar, dan analitis. Sebagian besar penilaian sehari-hari dihasilkan oleh Sistem 1, sedangkan Sistem 2 sering kali hanya “menyetujui” hasilnya dan menyusun pembenaran. Kahneman (2011) menegaskan bahwa kita cenderung mengidentifikasi diri dengan Sistem 2, padahal Sistem 1 yang lebih banyak menentukan apa yang kita pikirkan dan lakukan.
4. Tidak tahu bahwa kita tidak tahu
Kruger dan Dunning (1999) menemukan bahwa individu dengan kemampuan rendah dalam suatu bidang cenderung melebih-lebihkan kemampuannya. Menurut mereka, keterampilan yang melahirkan kompetensi dalam suatu bidang sering kali merupakan keterampilan yang sama dengan yang dibutuhkan untuk menilai kompetensi tersebut (Kruger & Dunning, 1999, hlm. 1121). Ini menunjukkan bahwa kelemahan berpikir sering kali tidak terlihat oleh orang yang mengalaminya.
5. Bukti dari ilmu saraf
Penelitian ilmu saraf menunjukkan bahwa kemampuan metakognitif berkaitan dengan aktivitas korteks prefrontal anterior dan dapat berbeda antarindividu, meskipun kemampuan dasar mereka dalam menyelesaikan tugas setara (Fleming & Dolan, 2012). Rouault dkk. (2018) juga menemukan bahwa gejala psikologis tertentu, seperti kecemasan dan depresi, berkaitan dengan rasa percaya diri yang lebih rendah, sementara kecenderungan kompulsif berkaitan dengan rasa percaya diri yang berlebihan, tanpa perbedaan berarti dalam kinerja tugas. Artinya, keyakinan kita terhadap pikiran sendiri adalah proses yang terpisah dan bisa bergeser dari kenyataan.
Berdasarkan kajian di atas, penulis berpendapat bahwa ketidakmampuan memahami cara berpikir sendiri bukanlah kelemahan pribadi, melainkan konsekuensi dari cara kerja otak manusia. Ada tiga alasan utama yang dapat disintesiskan dari berbagai temuan tersebut.
Pertama, sebagian besar proses berpikir berlangsung di luar kesadaran. Sistem 1 (Kahneman, 2011) dan ketidaksadaran adaptif (Wilson, 2002) bekerja jauh lebih cepat daripada kemampuan kesadaran untuk mengamatinya. Yang sampai ke kesadaran hanyalah hasil akhirnya, bukan prosesnya. Ibarat melihat hidangan di meja tanpa pernah masuk ke dapur, kita hanya bisa menebak bagaimana hidangan itu dibuat.
Kedua, ketika diminta menjelaskan, pikiran cenderung menyusun cerita yang masuk akal, bukan melaporkan kenyataan. Temuan Nisbett dan Wilson (1977) serta Johansson dkk. (2005) menunjukkan bahwa penjelasan yang kita berikan terasa jujur dan meyakinkan, bahkan ketika keliru. Schwitzgebel (2008) bahkan berpendapat bahwa introspeksi naif terhadap pengalaman sadar pun tidak dapat diandalkan. Penulis melihat bahwa hal inilah yang paling berbahaya, sebab kesalahan yang terasa benar jarang diperiksa ulang.
Ketiga, alat yang kita gunakan untuk menilai pikiran adalah pikiran itu sendiri. Temuan Kruger dan Dunning (1999) menggambarkan lingkaran ini dengan jelas: kekurangan dalam berpikir sekaligus melemahkan kemampuan untuk menyadari kekurangan tersebut. Ditambah lagi, Pronin (2009) menunjukkan bahwa kita lebih mudah melihat bias pada orang lain daripada pada diri sendiri.
Meski demikian, pandangan bahwa introspeksi sepenuhnya tidak berguna juga perlu dikritisi. Ericsson dan Simon (1993) menunjukkan bahwa laporan verbal dapat menjadi data yang valid ketika seseorang diminta menyampaikan apa yang sedang dipikirkannya (think aloud), bukan menjelaskan mengapa ia berpikir demikian. Dalam perdebatannya dengan Schwitzgebel, Hurlburt berpendapat bahwa dengan metode yang terlatih dan terstruktur, laporan tentang pengalaman batin dapat menjadi akurat, meskipun Schwitzgebel tetap meragukannya (Hurlburt & Schwitzgebel, 2007). Artinya, masalahnya bukan pada introspeksi itu sendiri, melainkan pada jenis pertanyaan yang diajukan kepada diri sendiri.
Selain itu, terdapat bukti bahwa metakognisi dapat dilatih. Carpenter dkk. (2019) menemukan bahwa pelatihan dengan umpan balik terhadap tingkat keyakinan dapat meningkatkan kemampuan metakognitif, dan peningkatan itu dapat berlaku pada tugas lain. Morewedge dkk. (2015) juga menunjukkan bahwa satu sesi pelatihan dapat mengurangi bias dalam pengambilan keputusan dalam jangka waktu tertentu. Temuan ini menyanggah anggapan bahwa bias berpikir adalah hal yang mutlak dan tidak dapat diubah.
Dengan menggabungkan kedua sisi tersebut, penulis menyimpulkan bahwa sikap yang paling tepat bukanlah mempercayai sepenuhnya penjelasan diri sendiri, tetapi juga bukan menolaknya sama sekali. Yang dibutuhkan adalah kerendahan hati intelektual: menyadari bahwa pikiran memiliki titik buta, lalu menggunakan cara-cara dari luar diri untuk memeriksanya. Sikap ini dapat diwujudkan melalui beberapa kebiasaan sederhana.
Upaya pertama adalah mencatat keputusan beserta alasannya sebelum hasilnya diketahui, lalu membandingkannya kemudian, agar ingatan tidak menyusun ulang alasan setelah kejadian. Selanjutnya, kita perlu memisahkan pertanyaan “apa yang saya pikirkan?” dari “mengapa saya memikirkannya?”, karena pertanyaan pertama jauh lebih dapat diandalkan (Ericsson & Simon, 1993). Meminta umpan balik dari orang lain juga penting, sebab orang lain lebih mudah melihat bias kita daripada diri kita sendiri (Pronin, 2009). Untuk keputusan penting, prosesnya perlu diperlambat agar Sistem 2 benar-benar memeriksa, bukan sekadar membenarkan hasil Sistem 1 (Kahneman, 2011). Terakhir, membiasakan diri menilai tingkat keyakinan lalu mencocokkannya dengan hasil nyata dapat menjadi bentuk latihan metakognisi (Carpenter dkk., 2019).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manusia tidak selalu memahami cara berpikirnya sendiri karena tiga hal: sebagian besar proses berpikir berlangsung otomatis di luar kesadaran, pikiran cenderung menyusun penjelasan yang masuk akal alih-alih melaporkan proses yang sebenarnya, dan kemampuan menilai pikiran bergantung pada pikiran yang sama yang sedang dinilai. Berbagai penelitian, mulai dari Nisbett dan Wilson (1977) hingga temuan ilmu saraf mutakhir, menunjukkan bahwa rasa yakin terhadap alasan sendiri bukanlah jaminan kebenaran.
Secara teoretis, kajian ini menegaskan bahwa metakognisi adalah proses perkiraan yang dapat meleset, bukan cermin yang memantulkan pikiran apa adanya. Namun, introspeksi tetap bernilai apabila digunakan untuk melaporkan isi pikiran, bukan untuk menebak penyebabnya.
Secara praktis, kesadaran berpikir dapat ditingkatkan melalui kebiasaan sederhana: mencatat alasan sebelum hasil diketahui, meminta umpan balik dari orang lain, memperlambat keputusan penting, dan melatih ketepatan rasa yakin. Mengakui bahwa kita tidak sepenuhnya memahami pikiran sendiri justru merupakan langkah awal untuk berpikir dengan lebih jernih dan bijaksana.
Daftar Pustaka
Carpenter, J., Sherman, M. T., Kievit, R. A., Seth, A. K., Lau, H., & Fleming, S. M. (2019). Domain-general enhancements of metacognitive ability through adaptive training. Journal of Experimental Psychology: General, 148(1), 51-64.
Dunlosky, J., & Metcalfe, J. (2009). Metacognition. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Ericsson, K. A., & Simon, H. A. (1993). Protocol Analysis: Verbal Reports as Data (Rev. ed.). Cambridge, MA: MIT Press.
Flavell, J. H. (1979). Metacognition and cognitive monitoring: A new area of cognitive-developmental inquiry. American Psychologist, 34(10), 906-911.
Fleming, S. M. (2021). Know Thyself: The Science of Self-Awareness. New York: Basic Books.
Fleming, S. M., & Dolan, R. J. (2012). The neural basis of metacognitive ability. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 367(1594), 1338-1349.
Hurlburt, R. T., & Schwitzgebel, E. (2007). Describing Inner Experience? Proponent Meets Skeptic. Cambridge, MA: MIT Press.
Johansson, P., Hall, L., Sikström, S., & Olsson, A. (2005). Failure to detect mismatches between intention and outcome in a simple decision task. Science, 310(5745), 116-119.
Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. New York: Farrar, Straus and Giroux.
Kruger, J., & Dunning, D. (1999). Unskilled and unaware of it: How difficulties in recognizing one’s own incompetence lead to inflated self-assessments. Journal of Personality and Social Psychology, 77(6), 1121-1134.
Morewedge, C. K., Yoon, H., Scopelliti, I., Symborski, C. W., Korris, J. H., & Kassam, K. S. (2015). Debiasing decisions: Improved decision making with a single training intervention. Policy Insights from the Behavioral and Brain Sciences, 2(1), 129-140.
Nisbett, R. E., & Wilson, T. D. (1977). Telling more than we can know: Verbal reports on mental processes. Psychological Review, 84(3), 231-259.
Pronin, E. (2009). The introspection illusion. Advances in Experimental Social Psychology, 41, 1-67.
Rouault, M., Seow, T., Gillan, C. M., & Fleming, S. M. (2018). Psychiatric symptom dimensions are associated with dissociable shifts in metacognition but not task performance. Biological Psychiatry, 84(6), 443-451.
Schwitzgebel, E. (2008). The unreliability of naive introspection. Philosophical Review, 117(2), 245-273.
Wilson, T. D. (2002). Strangers to Ourselves: Discovering the Adaptive Unconscious. Cambridge, MA: Belknap Press of Harvard University Press.