Penulis : Kamlia
Investasi kini tidak lagi hanya dibicarakan di ruang seminar, kantor perusahaan sekuritas, atau buku-buku ekonomi. Di media sosial, investasi hadir di antara video hiburan, unggahan gaya hidup, dan cerita keseharian. Seseorang dapat menemukan konten tentang saham, emas, reksa dana, hingga aset kripto hanya dengan beberapa kali menggulir layar. Bagi generasi muda, kondisi ini membuat informasi keuangan menjadi jauh lebih mudah diakses dibandingkan sebelumnya.
Kemudahan tersebut tentu membawa manfaat. Media sosial dapat menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan mengenai investasi dan mengenal berbagai instrumen keuangan. Namun, derasnya informasi juga menghadirkan persoalan lain. Ketika seseorang terus-menerus melihat orang lain membicarakan keuntungan investasi, memamerkan portofolio, atau menceritakan keberhasilan memperoleh keuntungan, muncul kemungkinan bahwa keputusan finansial tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan pribadi.
Pada titik ini, muncul istilah Fear of Missing Out (FOMO), yaitu kekhawatiran akan tertinggal dari pengalaman atau peluang yang sedang dinikmati orang lain. Konsep FOMO pada awalnya dikembangkan dalam kajian psikologi dan dikaitkan dengan keterhubungan seseorang terhadap aktivitas sosial orang lain. Media sosial membuat seseorang semakin mudah mengetahui apa yang sedang dilakukan orang lain sehingga peluang munculnya FOMO juga semakin besar (Przybylski et al., 2013).
Dalam konteks investasi, FOMO dapat muncul ketika seseorang melihat orang lain memperoleh keuntungan dari suatu aset dan kemudian merasa perlu ikut berinvestasi agar tidak kehilangan kesempatan. Sejumlah penelitian terbaru di Indonesia menunjukkan bahwa FOMO, herding behavior, dan pengaruh media sosial memang menjadi bagian dari faktor yang berkaitan dengan keputusan investasi generasi muda. Penelitian Armeyanti et al. (2025), misalnya, menemukan bahwa FOMO dan social media influencer berpengaruh terhadap keputusan investasi generasi dan milenial, sementara literasi keuangan berperan dalam memperkuat keputusan yang lebih terinformasi. Penelitian lain terhadap Generasi Z di Indonesia juga menunjukkan bahwa FOMO dan perilaku herding dapat mendorong keputusan investasi yang tidak sepenuhnya didasarkan pada analisis rasional.
Namun, persoalannya tidak berhenti pada rasa takut ketinggalan. Setelah seseorang mengikuti tren investasi tertentu, dapat muncul tekanan lain: bagaimana jika keputusan tersebut ternyata salah? Bagaimana jika orang lain menganggap dirinya tidak memahami investasi? Bagaimana jika hasil investasinya jauh di bawah orang lain? Kekhawatiran terhadap penilaian sosial inilah yang dalam artikel ini disebut sebagai FOPO finansial, yaitu penggunaan konsep Fear of Other People’s Opinions dalam konteks keputusan keuangan. Istilah tersebut digunakan sebagai kerangka analitis, bukan sebagai teori keuangan yang telah mapan.
Berdasarkan persoalan tersebut, artikel ini bertujuan untuk membahas bagaimana media sosial dapat memengaruhi keputusan investasi generasi muda melalui FOMO, herding behavior, dan tekanan sosial, serta bagaimana konsep FOPO finansial dapat digunakan untuk memahami kecenderungan individu dalam mengambil keputusan keuangan berdasarkan persepsi terhadap penilaian orang lain.
B. Isi
Media Sosial dan Perubahan Cara Generasi Muda Mengenal Investasi
Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi keuangan. Informasi mengenai investasi tidak lagi hanya berasal dari lembaga keuangan atau media ekonomi, tetapi juga dari influencer, komunitas daring, dan pengguna media sosial lainnya. Bahkan, penelitian eksperimental Kuerzinger dan Stangor (2024) menunjukkan bahwa unggahan bernada positif maupun negatif mengenai suatu perusahaan dapat memengaruhi perilaku investasi individu muda yang aktif menggunakan media sosial. Temuan tersebut menunjukkan bahwa informasi yang beredar di media sosial tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi dapat ikut memengaruhi persepsi dan keputusan investasi.
Kondisi ini menciptakan dua sisi yang perlu dilihat secara bersamaan. Di satu sisi, media sosial memperluas akses terhadap informasi dan memungkinkan generasi muda belajar mengenai investasi dengan cara yang lebih mudah. Di sisi lain, banyaknya informasi membuat kualitas dan objektivitas informasi menjadi persoalan tersendiri. Konten investasi yang menarik belum tentu merupakan informasi yang paling relevan untuk setiap individu.
Dengan demikian, persoalan utama bukan semata-mata apakah generasi muda memperoleh informasi investasi dari media sosial, melainkan bagaimana informasi tersebut diproses sebelum menjadi keputusan keuangan.
FOMO dan Keputusan Investasi
FOMO menggambarkan perasaan tidak nyaman ketika seseorang merasa tertinggal dari pengalaman atau kesempatan yang dimiliki orang lain. Dalam lingkungan media sosial, perasaan tersebut dapat semakin kuat karena keberhasilan orang lain terus-menerus terlihat.
Dalam investasi, bentuknya dapat sederhana. Seseorang melihat unggahan bahwa temannya memperoleh keuntungan dari saham tertentu. Ia kemudian melihat beberapa konten lain yang membicarakan aset yang sama. Semakin sering informasi tersebut muncul, semakin kuat kesan bahwa dirinya sedang melewatkan sebuah kesempatan.
Fenomena ini relevan dengan penelitian mengenai investor muda di Indonesia. Uly Binu (2024) menemukan bahwa herding behavior berpengaruh terhadap FOMO dan FOMO juga berpengaruh terhadap keputusan investasi investor ritel. Penelitian lain pada mahasiswa juga menemukan bahwa FOMO dapat menjadi bagian dari mekanisme yang menghubungkan paparan media sosial dan keputusan investasi.
Meski demikian, FOMO tidak boleh dipahami sebagai satu-satunya penyebab keputusan investasi. Keputusan seseorang tetap dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, kondisi keuangan, toleransi risiko, serta tujuan investasinya.
Ketika FOMO Bertemu dengan Herding Behavior
FOMO memiliki hubungan yang erat dengan herding behavior, yaitu kecenderungan individu mengikuti keputusan atau tindakan yang dilakukan oleh orang lain.
Dalam kondisi ketidakpastian, mengikuti kelompok terkadang terasa lebih aman daripada membuat keputusan sendiri. Jika banyak orang membeli suatu aset, seseorang dapat menganggap keputusan tersebut sebagai sinyal bahwa aset tersebut layak dibeli. Padahal, popularitas suatu keputusan tidak selalu menunjukkan bahwa keputusan tersebut sesuai dengan kondisi keuangan setiap orang.
Penelitian terbaru mengenai Generasi Z di Indonesia menunjukkan bahwa media sosial, FOMO, dan perilaku herding dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan investasi. Adi (2025), misalnya, menemukan melalui wawancara dengan investor Generasi Z bahwa faktor psikologis dan sosial berperan kuat dalam keputusan investasi, sementara herding dan FOMO dapat mendorong tindakan yang lebih impulsif.
Namun, bukti penelitian juga tidak selalu menunjukkan pola yang sama. Rahmawati dan Raharja menemukan bahwa herding behavior tidak secara signifikan memengaruhi FOMO maupun keputusan investasi dalam penelitian mereka terhadap investor Generasi Z. Perbedaan hasil ini menunjukkan bahwa hubungan antara media sosial, FOMO, herding, dan keputusan investasi bersifat kompleks.
C. Analisis dan Sintesis
Jika FOMO menjelaskan ketakutan seseorang akan kehilangan kesempatan, maka tekanan terhadap penilaian orang lain menjelaskan persoalan yang berbeda. Seseorang tidak hanya takut tertinggal, tetapi juga dapat merasa khawatir mengenai bagaimana keputusan finansialnya akan dipandang oleh orang lain.
Dalam artikel ini, kondisi tersebut disebut sebagai FOPO finansial. Misalnya, seseorang membeli aset tertentu karena melihat banyak orang membicarakannya. Setelah membeli, ia terus memantau perkembangan aset tersebut bukan hanya karena alasan investasi, tetapi juga karena ingin memastikan bahwa keputusannya tidak terlihat buruk di hadapan orang lain. Ketika harga turun, yang muncul bukan hanya kerugian finansial, tetapi juga kekhawatiran bahwa orang lain akan menilai dirinya telah mengambil keputusan yang keliru.
Di sinilah media sosial memiliki karakter yang berbeda dari lingkungan informasi tradisional. Media sosial tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana orang lain bertindak. Seseorang tidak hanya membaca bahwa investasi tertentu menguntungkan, tetapi dapat melihat orang lain mengunggah keuntungan, menunjukkan portofolio, atau membicarakan strategi investasi mereka. Akibatnya, keputusan keuangan dapat berubah menjadi keputusan yang memiliki dimensi sosial.
Fenomena tersebut tidak berarti bahwa media sosial selalu menghasilkan keputusan investasi yang buruk. Sebaliknya, media sosial dapat menjadi sarana pendidikan keuangan yang sangat berguna. Penelitian mengenai Generasi Z di Indonesia menunjukkan bahwa literasi keuangan berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan investasi yang lebih terarah. Penelitian lain juga menemukan bahwa literasi keuangan dapat berperan dalam hubungan antara FOMO, social media influencer, dan keputusan investasi.
Persoalannya muncul ketika informasi berubah menjadi tekanan sosial. Ketika seseorang membeli aset karena telah melakukan analisis mengenai risiko dan potensi keuntungan, keputusan tersebut berbeda dengan membeli karena “semua orang sedang membelinya”. Dalam kasus pertama, media sosial berfungsi sebagai sumber informasi. Dalam kasus kedua, media sosial dapat menjadi sumber tekanan.
Perbedaan ini penting karena keputusan investasi pada dasarnya bersifat personal. Tujuan keuangan, pendapatan, kebutuhan, toleransi risiko, dan jangka waktu investasi setiap orang berbeda. Keuntungan yang sesuai bagi satu orang belum tentu sesuai bagi orang lain.
Penelitian Kuerzinger dan Stangor (2024) menunjukkan bahwa sentimen dalam unggahan media sosial dapat memengaruhi perilaku investasi anak muda. Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pengaruh tersebut bekerja melalui perubahan persepsi terhadap informasi mengenai kondisi perusahaan, bukan semata-mata karena seseorang melihat unggahan positif lalu langsung membeli aset. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan media sosial dan keputusan investasi tidak sesederhana “melihat konten lalu membeli”.
Karena itu, menurut penulis, persoalan utama yang perlu diperhatikan bukan keberadaan FOMO atau media sosial itu sendiri, melainkan ketika pertimbangan sosial mulai menggantikan pertimbangan finansial.
FOMO dapat membuat seseorang bertanya:
“Apa yang akan saya lewatkan jika tidak ikut?”
Sementara FOPO finansial membuat seseorang bertanya:
“Apa yang akan orang lain pikirkan jika keputusan saya ternyata salah?”
Jika kedua pertanyaan tersebut lebih dominan daripada pertanyaan seperti “Apakah investasi ini sesuai dengan tujuan saya?”, “Seberapa besar risikonya?”, dan “Apakah saya mampu menanggung kerugiannya?”, maka keputusan investasi berpotensi bergeser dari keputusan yang berbasis kebutuhan menjadi keputusan yang berbasis tekanan sosial.
Dengan demikian, media sosial sebaiknya tidak dipandang sebagai musuh literasi keuangan. Tantangannya justru terletak pada kemampuan pengguna untuk memisahkan antara informasi, popularitas, dan tekanan sosial. Banyaknya orang yang membicarakan suatu aset tidak otomatis membuat aset tersebut cocok bagi semua orang. Demikian pula, keuntungan yang ditampilkan seseorang di media sosial tidak menggambarkan keseluruhan risiko dan pengalaman investasinya.
Literasi keuangan dalam konteks ini tidak cukup hanya memahami istilah saham, reksa dana, emas, atau aset kripto. Literasi keuangan juga perlu mencakup kemampuan mengenali bias dalam diri sendiri. Mengetahui bahwa keputusan kita mungkin dipengaruhi FOMO, herding, atau keinginan memperoleh pengakuan sosial merupakan bagian penting dari proses pengambilan keputusan yang lebih sadar.
Pada akhirnya, investasi seharusnya tidak menjadi perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling cepat memperoleh keuntungan. Investasi merupakan keputusan untuk mengalokasikan sumber daya saat ini demi tujuan keuangan pada masa mendatang. Karena itu, ukuran keberhasilan investasi tidak semestinya ditentukan oleh seberapa mirip keputusan kita dengan orang lain, tetapi oleh seberapa sesuai keputusan tersebut dengan tujuan dan kemampuan kita sendiri.
D. Kesimpulan
Media sosial telah membuat informasi investasi semakin mudah diakses oleh generasi muda. Kondisi tersebut memberikan peluang besar bagi peningkatan literasi keuangan, tetapi sekaligus membuka ruang bagi munculnya berbagai bias perilaku. FOMO dapat muncul ketika seseorang merasa tertinggal dari peluang investasi yang sedang dinikmati orang lain, sementara herding behavior dapat mendorong seseorang mengikuti keputusan kelompok tanpa melakukan pertimbangan yang memadai.
Di sisi lain, tekanan terhadap penilaian sosial dapat muncul setelah seseorang berada dalam lingkungan investasi yang sangat terbuka di media sosial. Dalam artikel ini, kondisi tersebut disebut sebagai FOPO finansial, yaitu istilah analitis untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap penilaian orang lain dalam mengambil atau mengevaluasi keputusan keuangan. Konsep ini tidak dimaksudkan sebagai teori keuangan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai cara untuk memahami dimensi sosial dari keputusan finansial.
Dengan demikian, persoalannya bukan apakah generasi muda seharusnya menjauh dari media sosial atau berhenti mengikuti perkembangan investasi. Tantangannya adalah membangun jarak yang cukup antara informasi yang diterima dan keputusan yang diambil. Informasi dari media sosial dapat menjadi titik awal untuk belajar, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan keuangan.
Pada akhirnya, keputusan investasi yang sehat bukanlah keputusan yang paling populer, melainkan keputusan yang paling sesuai dengan tujuan, kemampuan, dan toleransi risiko masing-masing individu.
DAFTAR PUSTAKA
Armeyanti, Z., Umyana, A., & Karpriana, A. P. (2025). Pengaruh FOMO dan social media influencer terhadap keputusan investasi dengan literasi keuangan sebagai moderasi. Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi, & Akuntansi (MEA), 9(2), 3256–3280. Journal STIEMB
Adi, P. S. (2025). Perilaku herding dan overconfidence: Menjelajahi pengaruh media sosial terhadap keputusan investasi Generasi Z. Jurnal Akuntansi, Keuangan dan Teknologi Informasi Akuntansi, 6(2), 461–470. Jurnal UMB
Kuerzinger, L., & Stangor, P. (2024). The relevance and influence of social media posts on investment decisions of young and social media-savvy individuals—An experimental approach based on Tweets. Journal of Behavioral and Experimental Finance, 44, 101005. ScienceDirect
Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. DOI
Rahmawati, U., & Raharja, S. (2024). The influence of herding, loss aversion, and availability on investment decision-making with Fear of Missing Out as a mediating variable among Generation Z investors. Indonesian Interdisciplinary Journal of Sharia Economics, 7(3). UAC E-Journal
Sari, W. A., & Takarini, N. (2025). Analysis of the influence of social media influencers, herding bias, information quality on student investment decisions UPN “Veteran” East Java mediated by Fear of Missing Out (FOMO). Journal of Humanities and Social Studies, 9(2). JHSS
Uly Binu, M. O. (2024). The influence of heuristic and herding behavior on investment decisions through FOMO on retail investors in Indonesia. Jurnal Indonesia Sosial Teknologi, 5(9), 22–32