Penulis: Tia Triamelia
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia memperoleh dan menyebarkan informasi secara fundamental. Kehadiran internet dan media sosial memungkinkan informasi menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan detik tanpa dibatasi ruang dan waktu. Di indonesia, fenomena ini semakin terlihat dengan meningkatnya jumlah pengguna internet dari tahun ke tahun. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2026 menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet indonesia telah mencapai 235, 26 juta jiwa dengan tingkat penetrasi nasional menyentuh angka 81, 72%. Dari jumlah tersebut, Generasi Z menjadi kelompok yang dominan dalam penggunaan internet untuk hiburan media sosial dan adopsi AI dengan kontribusi sebesar 89,02% dari total pengguna internet nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa Generasi Z merupakan kelompok yang paling dekat dengan ekosistem informasi digital.
Kemudahan akses terhadap informasi pada awalnya dipandang sebagai peluang besar untuk meningkatkan kualitas pengetahuan masyarakat. Berbagai informasi mengenai kesehatan, lingkungan, teknologi, dan perkembangan ilmu pengetahuan dapat diakses secara cepat melalui berbagai platfrom digital. Namun, dibalik kemudahan tersebut muncul tantangan baru berupa maraknya penyebaran hoaks sains dimedia sosial. Berbagai klaim mengenai bahaya vaksin, pengobatan alternatif tanpa dasar ilmiah, perubahan iklim, hingga perkembangan kecerdasan buatan sering kali beredar luas dan memperoleh perhatian publik meskipun tidak didukung oleh bukti ilmiah yang memadai. Ironisnya, informasi yang tidak terverifikasi tersebut sering kali lebih cepat menyebar dibandingkan hasil penelitian yang telah melalui proses pengujian akademik.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya paradoks dalam masyarakat digital. Disatu sisi, Generasi Z memiliki akses yang sangat luas terhadap berbagai sumber pengetahuan. Namun, disisi lain mereka tetap rentan terhadap misinformasi dan hoaks sains. Hassoun et al (2023) menemukan bahwa Generasi Z lebih sering menjumpai informasi melalui alur media sosial daripada melalui pencarian informasi yang terencana. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting “Mengapa generasi yang memiliki akses informasi terbesar justru masih mudah memercayai informasi yang tidak memiliki dasar ilmiah?” persoalan ini menjadi semakin penting karena informasi yang keliru dapat memengaruhi cara masyarakat mengambil keputusan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan hingga lingkungan.
Sehingga artikel ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang menyebabkan hoaks sains mudah dipercaya oleh Generasi Z serta menganalisis pentingnya literasi sains dan peran pendidikan dalam menghadapi krisis verifikasi informasi di era digital.
Hoaks sains dan informasi disorder
Penyebaran hoaks sains diera digital dapat dipahami melalui konsep information disorder yang diperkenalkan oleh Wardle dan Derakhshan (2017). Bahwa gangguan informasi teridri atas tiga bentuk utama, yaitu misinformation, disinformation dan malinformation. Misinformation merupakan informasi yang salah tetapi disebarkan tanpa niat untuk menyesatkan. Disinformation adalah informasi yang sengaja dibuat dan disebarkan untuk menipu atau memengaruhi persepsi publik. Sementara itu, malinformation merupakan informasi yang sebenarnya benar, tetapi digunakan secara manipulatif sehingga menghasilkan pemahaman yang keliru.
Dalam konteks sains, ketiga bentuk gangguan informasi tersebut sangat nyata keberadaannya di ruang digital keseharian. Alih-alih sekadar klaim umum, Generasi Z kini sering terpapar narasi pseudo-science (sains semu) dan teori konspirasi yang dengan cepat viral di platfrom video pendek seperti tiktok. Sebagai contoh, pada tahun 2025 beredar luas hoaks visual yang meyakinkan bahwa wilayah tropis indonesia akan turun salju pada tahun 2026, sebuah klaim yang jelas bertentangan dengan fakta klimatologi BMKG. Selain itu, terdapat pula narasi ketakutan massal mengenai kiamat internet akibat badai matahari ekstrem yang catut nama NASA, hingga teori konspirasi penolakan program imunisasi resmi yang dipelintir sebagai misi penyebaran virus baru. Kasus-kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana informasi yang dimanipulasi secara emosional dan visual dapat memperoleh engagement masif serta mengalahkan narasi berbasis bukti ilmiah dalam ekosistem digital kita. Kecepatan penyebaran informasi di media sosial membuat masyarakat sering kali kesulitan membedakan mana informasi yang berbasis bukti ilmiah dan mana yang hanya didasarkan pada opini atau spekulasi.
Literasi Sains
Untuk menghadapi fenomena tersebut, literasi sains menjadi konsep yang sangat penting. OECD (2023) menjelaskan bahwa literasi sains tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami konsep-konsep ilmiah, tetapi juga mencakup kemampuan menjelaskan fenomena secara bukti ilmiah, mengevaluasi bukti, menafsirkan data, serta menggunakan pengetahuan ilmiah dalam pengambilan keputusan. Artinya seseorang yang memiliki literasi sains yang baik tidak hanya mengetahui fakta-fakta ilmiah, tetapi juga memahami bagaimana fakta tersebut diperoleh dan diverifikasi. Pemahaman ini menjadi penting karena ilmu pengetahuan pada dasarnya merupakan proses yang terus berkembang melalui pengamatan, pengujian, dan evaluasi. Oleh sebab itu, literasi sains memungkinkan seseorang untuk menilai kredibilitas suatu informasi berdasarkan bukti yang tersedia, bukan berdasarkan popularitas atau keyakinan pribadi semata.
Generasi Z dan Media Digital
Generasi Z sering disebut sebagai digital native karena sejak kecil telah hidup berdampingan dengan internet dan teknologi digital. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, Generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang menjadikan teknologi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka memperoleh informasi dengan cepat, berkomunikasi melalui media sosial, dan menjadikan platfrom digital sebagai salah satu sumber utama pengetahuan.
Karakteristik tersebut memberikan berbagai keuntungan, terutama dalam hal akses informasi. Akan tetapi, kemudahan tersebut juga menghadirkan risiko baru. Tingginya intensitas penggunaan media sosial menyebabkan Generasi Z terpapar pada berbagai jenis informasi tanpa adanya proses penyaringan yang memadai. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan untuk mengevaluasi kredibilitas informasi menjadi lebih penting dibandingkan sekadar kemampuan mengakses informasi.
Analisis dan Sintesis
Maraknya hoaks sains dikalangan Generasi Z menunjukkan bahwa akses informasi yang luas tidak selalu menghasilkan masyarakat yang lebih kritis. Ecker et al (2022) menjelaskan bahwa individu cenderung mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinan dan identitas sosial yang telah dimilikinya, bahkan setelah informasi tersebut dikoreksi, sehingga kondisi ini menyebabkan misinformasi tetap bertahan dan terus dipercaya oleh sebagian masyarakat. Media sosial mendorong pengguna untuk memperoleh informasi secara instan melalui judul singkat, video pendek, maupun potongan informasi yang mudah dikonsumsi. Akibatnya, banyak pengguna yang lansung menerima atau membagikan suatu informasi tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap sumber maupun bukti yang mendukung informasi tersebut.
Kondisi tersebut sangat berbeda dengan karakteristik ilmu pengetahuan. Dalam sains, suatu informasi tidak dapat diterima begitu saja tanpa melalui proses pengujian, verifikasi, dan evaluasi yang ketat. Setiap klaim harus didukung oleh data yang dapat diuji dan dikaji ulang oleh peneliti lain. Oleh karena itu, terdapat benturan yang cukup jelas antara budaya digital yang serba cepat dengan budaya ilmiah yang menekankan kehati-hatian dan verifikasi. Dalam situasi tersebut, hoaks sains memperoleh keuntungan karena umumnya disajikan dalam bentuk yang sederhana, menarik, dan mudah dipahami, sedangkan penjelasan ilmiah sering kali memerlukan penjelasan yang lebih panjang dan kompleks
Selain itu, fenomena hoaks sains juga dipengaruhi oleh kecenderungan masyarakat untuk mengaitkan popularitas dengan kebenaran. Dalam ruang digital, jumlah tayangan, komentar, dan pembagian sering kali dianggap sebagai indikator kredibilitas suatu informasi. Akibatnya, banyak pengguna lebih mempercayai informasi yang disampaikan oleh influencer, kreator konten, atau akun yang memiliki banyak pengikut dibandingkan informasi yang berasal dari jurnal ilmiah atau lembaga penelitian. Padahal, popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan validitas ilmiah. Dalam kondisi ini, popularitas sering kali berfungsi sebagai pengganti kredibilitas sehingga informasi yang menarik secara emosional lebih mudah dipecaya dibandingkan informasi yang berbasis bukti.
Penulis berpedapat bahwa akar persoalan yang paling mendasar terletak pada rendahnya literasi sains masyarakat. Banyak individu memahami sains hanya sebagai kumpulan fakta yang harus dihafal, bukan sebagai proses yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan. Akibatnya, masyarakat cenderung menilai suatu informasi berdasarkan kesimpulan akhirnya tanpa memahami bagaimana kesimpulan tersebut diperoleh. Jika seseorang memahami bagaimana penelitian dilakukan, bagaimana data dianalisis, dan bagaimana kesimpulan ilmiah dibangun, maka kemungkinan untuk mempercayai hoaks akan semakin kecil. Dengan demikian, persoalan hoaks sains tidak hanya berkaitan dengan akses informasi, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan memahami proses ilmiah itu sendiri.
Dalam konteks tersebut, literasi sains memiliki peran yang sangat penting. Literasi sains membantu masyarakat membedakan fakta dan opini, mengevaluasi sumber informasi, memahami bukti ilmiah, serta mengambil keputusan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, literasi sains tidak lagi menjadi kebutuhan yang terbatas pada ilmuwan atau akademisi, melainkan menjadi kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seluruh masyarakat digital. Untuk mewujudkan hal tersebut, pendidikan memiliki posisi yang sangat strategis. Selama ini, pendidikan sains sering kali lebih menekankan penguasaan materi dan hafalan konsep dibandingkan kemampuan berpikir kritis. Akibatnya, peserta didik mampu mengingat berbagai teori ilmiah, tetapi belum tentu mampu mengevaluasi informasi yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menunjukkan perlunya perubahan paradigma dalam pembelajaran sains.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, pendidikan perlu memperkuat literasi media dan informasi. UNESCO (2024) menegaskan bahwa kemampuan memverifikasi informasi, mengevaluasi sumber, mengenali disinformasi, merupakan kompetensi yang penting untuk membangun masyarakat yang tangguh terhadap penyebaran hoaks. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menghasilkan individu yang memahami teori sains, tetapi juga mampu menghadapi banjir informasi yang terus berkembang di era digital.
Kesimpulan
Fenomena hoaks sains di kalangan Generasi Z menunjukkan bahwa kemajuan teknologi informasi tidak secara otomatis menghasilkan masyarakat yang lebih kritis. Kemudahan memperoleh informasi justru dapat meningkatkan risiko penyebaran misinformasi apabila tidak diimbangi dengan kemampuan verifikasi yang memadai. Budaya digital yang mengutamakan kecepatan, kecenderungan menganggap popularitas sebagai indikator kebenaran, serta rendahnya literasi sains menjadi faktor utama yang menyebabkan hoaks sains mudah dipercaya.
Dalam kondisi tersebut, literasi sains menjadi kebutuhan yang sangat penting karena memungkinkan masyarakat mengevaluasi informasi berdasarkan bukti ilmiah, bukan berdasarkan emosi atau popularitas. Oleh karena itu, pendidikan perlu mengambil peran yang lebih besar dalam membangun kemampuan berpikir kritis, verifikasi informasi, dan pemahaman terhadap metode ilmiah. Dengan demikian, Generasi Z tidak hanya menjadi pengguna informasi yang aktif, tetapi juga mampu menjadi individu yang kritis dan bertanggung jawab dalam menghadapi berbagai tantangan informasi di era digital.
Daftar Pustaka:
APJII. (2026). Survei penetrasi internet Indonesia 2026. Jakarta: Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.
Ecker, U. K. H., Lewandowsky, S., Cook, J., Schmid, P., Fazio, L. K., Brashier, N., Kendeou, P., Vraga, E. K., & Amazeen, M. A. (2022). The psychological drivers of misinformation belief and its resistance to correction. Nature Reviews Psychology, 1(1), 13–29.
Hassoun, A., Beacock, I., Consolvo, S., Goldberg, B., Kelley, P.G., & Russell, D. (2023). Practicing Information Sensibility: How Gen Z Engages with Online Information. Proceedings of the 2023 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems.
OECD. (2023). Science literacy. Paris: Organisation for Economic Co-operation and Development.
UNESCO. (2024). Media and information literacy. Paris: United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.
Wardle, C., & Derakhshan, H. (2017). Information disorder: Toward an interdisciplinary framework for research and policy making. Stransbourg: Council of Europe.