Penulis: Ani Lestari Wijayanti
Tiap tahun, gelombang lulusan baru melempar toga ke udara dan menyambut akhir masa studi dengan sorak-sorai. Namun di balik perayaan itu, angka-angka bercerita lain. Data Sakernas pada Agustus 2024 mencatat bahwa tingkat pengangguran terbuka lulusan diploma ke atas menyentuh 5,18%, lebih tinggi dibanding lulusan sekolah dasar yang hanya berada di angka 2,95% (BPS, 2024). Paradoks ini bukan soal kekurangan gelar, melainkan soal apa yang tidak ada di balik gelar itu.
Tidak sedikit mahasiswa yang memasuki perguruan tinggi bukan karena memiliki gambaran tentang ke mana mereka akan melangkah. Mereka masuk karena tidak tahu jalan lain, karena tekanan keluarga yang tidak memberi ruang untuk memilih, atau karena takut dianggap gagal jika tidak melanjutkan studi. Dari titik inilah lahir apa yang disebut sebagai hollowed-out degree, sebuah gelar yang sah secara administratif namun rapuh dari dalam karena tidak ditopang oleh tujuan, makna, maupun kesiapan yang sesungguhnya.
Artikel ini menelusuri keterkaitan antara absennya makna hidup, menguatnya burnout akademik, dan rendahnya kesiapan kerja di kalangan lulusan perguruan tinggi Indonesia. Lebih jauh, artikel ini mendiskusikan apa yang perlu diubah agar kampus tidak lagi menjadi ruang persembunyian dari kebingungan, melainkan benar-benar menjadi tempat seseorang menemukan arahnya.
Akar dari persoalan ini terletak jauh sebelum mahasiswa merasakan kelelahan atau kesulitan mencari kerja. Semuanya bermula dari ketiadaan purpose, dari absennya alasan yang cukup kuat dan personal untuk memilih kuliah. Martela dan Steger (2023) merumuskan makna hidup dalam tiga dimensi yang saling menopang: coherence (kehidupan terasa berpola dan masuk akal), purpose (ada tujuan yang memberi arah), dan significance (seseorang merasa bahwa hidupnya sungguh berharga). Mahasiswa yang masuk kampus sebagai pelarian hampir pasti membawa defisit pada ketiga dimensi ini sekaligus. Mereka tidak memahami mengapa mereka mempelajari hal-hal yang mereka pelajari, tidak merasakan kaitannya dengan kehidupan yang ingin mereka bangun, dan akhirnya tidak merasa bahwa proses itu memiliki arti apa-apa bagi diri mereka sendiri.
Dari kekosongan itulah burnout akademik mulai tumbuh. Indreswari, Probowati, dan Rachmawati (2022) menguraikan burnout akademik melalui tiga tanda yang berulang: kelelahan emosional yang menumpuk, keengganan untuk terus belajar, dan perasaan tidak mampu yang menggerogoti dari dalam. Penelitian mereka menunjukkan bahwa 56% mahasiswa memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang rendah, dan rendahnya kesejahteraan ini terbukti berkorelasi negatif secara signifikan dengan burnout akademik. Mereka yang sejak awal tidak punya alasan kuat untuk berada di kampus adalah yang paling mudah jatuh, karena tidak ada pijakan psikologis yang cukup dalam untuk menahan mereka saat tekanan datang.
Celakanya, burnout ini tidak menguap saat seseorang menerima ijazah. Tomlinson (2017) menegaskan bahwa kemampuan kerja seorang lulusan tidak bisa direduksi menjadi soal seberapa dalam penguasaan teknisnya. Ia dibentuk oleh banyak hal sekaligus: modal individu, struktur sosial, dan pasar kerja yang terus berganti wajah. Di antara komponen-komponen itu, yang paling penting justru adalah psychological capital, yaitu daya untuk bangkit dari kegagalan, untuk tetap tegak di tengah ketidakpastian, dan untuk menemukan arah di pasar karier yang tidak lagi linier. Modal ini hanya bisa tumbuh pada seseorang yang sejak awal sudah memiliki fondasi psikologis yang sehat. Mereka yang memasuki dunia kerja dengan burnout yang belum tuntas dan tanpa tujuan yang jelas akan menghadapi seleksi paling ketat dalam kondisi yang paling tidak siap.
Di atas kerentanan itu, disrupsi kecerdasan buatan terus menambah beban. Zeng, Santaveesuk, dan Budsara (2025) mencatat bahwa AI diperkirakan akan menggantikan sekitar 85 juta pekerjaan di seluruh dunia, sementara di saat yang bersamaan membuka 97 juta peran baru yang membutuhkan kemampuan lintas bidang dan kecepatan beradaptasi. Di Indonesia, keterbatasan infrastruktur digital dan lemahnya jalinan antara kampus dan industri membuat banyak lulusan tiba di pasar kerja tanpa bekal yang memadai untuk bersaing di lanskap yang sudah berubah itu. Tomlinson (2017) menggambarkan kondisi ini sebagai credential inflation: ketika gelar sarjana makin kehilangan daya pembedanya, yang bertahan sebagai keunggulan kompetitif justru adalah hal-hal yang paling sulit direkayasa dari luar diri, seperti kreativitas, empati, kemampuan berpikir lintas disiplin, dan ketahanan dalam menghadapi perubahan. Semua itu tidak bisa berkembang pada seseorang yang memasuki kuliah tanpa tahu mengapa ia ada di sana.
Upaya kebijakan untuk menjembatani jurang ini pun belum membuahkan hasil yang memuaskan. Tangi, Sumarsono, dan Tinenti (2026) mengevaluasi program Kampus Mengajar di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang dan menemukan bahwa program tersebut tidak memberikan dampak yang berarti pada kompetensi maupun kesiapan kerja lulusan. Akar masalahnya bukan semata pada rancangan programnya, melainkan pada mengapa mahasiswa mengikutinya: sebagian besar didorong oleh keinginan untuk cepat lulus dan memperoleh insentif finansial, bukan oleh kesadaran yang tulus tentang pentingnya berkembang. Ini adalah konfirmasi dari argumen yang dibawa artikel ini, bahwa pengalaman lapangan hanya benar-benar membentuk seseorang secara psikologis jika ia datang dengan tujuan yang sudah tertanam dari dalam. Tanpa itu, program sehebat apapun hanya akan dijalani sebagai kewajiban, bukan sebagai titik balik.
Kesimpulan
Ketidaksiapan kerja lulusan perguruan tinggi Indonesia bukan persoalan yang bisa diselesaikan hanya dengan merombak kurikulum atau mengeluarkan kebijakan baru. Masalah ini berawal dari jauh sebelum semester pertama dimulai: dari keputusan masuk kuliah yang tidak dilandasi oleh tujuan yang cukup jelas. Ketika kuliah dijalani sebagai jalan lari dari kebingungan, bukan sebagai pilihan yang disadari dan diinginkan, yang dihasilkan adalah gelar yang kosong dari dalam.
Data Sakernas 2024 mencatat TPT lulusan diploma ke atas sebesar 5,18%, lebih tinggi dari lulusan pendidikan dasar. Tingkat pengangguran terbuka usia muda menyentuh 17,32% dan menyumbang lebih dari separuh total pengangguran nasional (BPS, 2024). Angka-angka ini adalah wujud nyata dari krisis makna yang tidak pernah ditangani sejak awal: defisit coherence, purpose, dan significance yang dibiarkan mengendap selama empat tahun, lalu meledak di pasar kerja (Martela & Steger, 2023). Kampus Indonesia perlu berhenti menjadi tempat berlindung dari kebingungan, dan mulai menjadi ruang di mana mahasiswa tidak hanya diajarkan apa yang harus mereka kuasai, tetapi juga didampingi dalam menjawab pertanyaan yang jauh lebih mendasar: mengapa ini penting bagi saya, dan ke mana saya ingin pergi.
Daftar Pustaka:
Badan Pusat Statistik. (2024). Booklet SAKERNAS Agustus 2024 (Volume 7, Nomor 2). Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.
Indreswari, H., Probowati, D., & Rachmawati, I. (2022). Psychological well-being and student academic burnout. Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling, 7(3), 138–149. https://doi.org/10.17977/um001v7i32022p138-149
Martela, F., & Steger, M. F. (2023). The Three Dimensional Meaning in Life Scale (3DM): Developing and validating a scale to measure coherence, purpose, and significance. The Journal of Positive Psychology, 18(4), 606–621. https://doi.org/10.1080/17439760.2022.2155222
Tangi, H., Sumarsono, R. B., & Tinenti, Y. R. (2026). Dampak dari Kampus Mengajar terhadap kompetensi lulusan dan kesiapan kerja bagi lulusan universitas. Proceedings Series of Educational Studies: Seminar Nasional Departemen Administrasi Pendidikan “Transformasi Manajemen Pendidikan: Membangun Reputasi Kelembagaan Dalam Mendukung Kebijakan Pendidikan Nasional di Era Digital”, Universitas Negeri Malang, 1–7.
Tomlinson, M. (2017). Introduction: Graduate employability in context: Charting a complex, contested and multi-faceted policy and research field. Dalam M. Tomlinson & L. Holmes (Eds.), Graduate employability in context: Theory, research and debate (hlm. 1–38). Palgrave Macmillan. https://doi.org/10.1057/978-1-137-57168-7_1
Zeng, Y., Santaveesuk, P., & Budsara, T. (2025). Artificial intelligence and the future of graduate employment: Risks and opportunities. International Journal of Environmental Sciences, 11(20s), 544–552.