Penulis: Ahmad Khairul Shiddiq
Pendahuluan
Komunitas pada dasarnya adalah sebuah kelompok orang yang memiliki ketertarikan atau minat yang sama pada suatu hal (Cambridge Dictionary). Dalam artikel ini, komunitas yang dimaksud adalah komunitas costume play (cosplay). Di seluruh dunia, penggemar cosplay berkumpul di konvensi dan pesta untuk berbagi apresiasi dan kecintaan mereka terhadap anime dan manga (McCarthy, 1993; Napier, 2001; Poitras, 2001, dalam Winge, 2006). Cosplay sederhananya adalah berbagai aktivitas seperti pesta kostum, karaoke, dan berfoto bersama penggemar lainnya yang berhubungan dengan berkostum sekaligus berperan sebagai karakter favoritnya yang berasal dari TV, film, animation/anime, manga, video games, dll. (Nesic, 2013; Valentine, 2020; Winge, 2006).
Istilah cosplay dikenalkan oleh Nobuyuki Takahashi yang menggunakan istilah ini dalam artikelnya pada tahun 1984 (Plunkett, 2014, dalam Buhl, 2019). Meski begitu, budaya cosplay telah lama dikenal oleh masyarakat dunia, cosplay ‘pertama’ di dunia dilakukan oleh William Fell, yang memerankan karakter “Mr. Skygack of Mars” dan istrinya yang memerankan karakter “Diana Dillpickles” dari komik “Mr. Skygack, from Mars” pada tahun 1908 (Sugawa-Shimada, 2024). Adapun acara atau event yang ‘pertama kali’ mengadakan cosplay adalah World Science Fiction Convention Pertama yang diadakan pada tahun 1939 dimana Forrest J. Ackerman dan pacarnya berpakaian sebagai karakter dari film “Things to Come (1936)” (Pushkareva & Agaltsova, 2021; Valentine, 2020).
Berdasarkan hal tersebut, artikel ini akan membahas tentang awal mula budaya cosplay dan pengaruh besar ‘World Science Fiction Convention’ terhadap perkembangan budaya cosplay di dunia.
Pembahasan
1. Budaya Cosplay di Amerika
Awal abad kedua puluh sering dianggap sebagai awal mula cosplay yang tercatat. William Fell mengenakan kostum Mr. Skygack from Mars saat menghadiri pesta topeng pada tahun 1908. Karakter ini berasal dari strip komik fiksi ilmiah pertama, ‘Mr. Skygack from Mars’ yang dibuat oleh A. D. Condo untuk surat kabar Chicago Daybook yang terbit dari tahun 1907 hingga 1917. Para peserta karnaval skating bertopeng sangat terkesan dengan kostum Skygack yang dikenakan oleh William Fell, yang hadir bersama istrinya yang berpakaian sebagai Diana Dillpickles, karakter lain dari penulis yang sama. Kemudian, pada tahun 1912, August Olson dari Monroe, Washington, juga menghadiri pesta topeng dengan kostum Mr. Skygack. Ia berfoto dalam kostum tersebut dan mengirimkannya ke Tacoma Times, yang kemudian menerbitkan foto itu di halaman depan pada 24 Mei 1912. Praktik cosplay Mr. Skygack kemudian menyebar ke seluruh negeri, meskipun tidak selalu dihargai (Lunning, 2022, pp. 36–37).

Gambar Mr. skygack sosplayer
(sumber: https://cosplayers.gr/en/greek-cosplay-history/)
Jika kita membatasi definisi cosplay modern sebagai penampilan berkostum dari karakter budaya populer, maka kita juga harus mengakui pentingnya science fiction convention yang berkembang pada paruh pertama abad kedua puluh. Science Fiction Convention adalah tempat munculnya budaya dan praktik penggemar, termasuk cosplay (Mountfort, Peirson-Smith, Geczy, 2018, dalam Lunning, 2022, pp. 37-38). Science fiction convention yang dimaksud disini adalah Worldcon atau World Science Fiction Convention merupakan sebuah acara atau konvensi budaya fiksi ilmiah yang terkenal di dunia yang telah berlangsung lama, berskala besar, dan berpengaruh, yang diselenggarakan oleh World Science Fiction Society (Yao, 2023).
Worldcon pertama kali dilaksanakan di New York pada tahun 1939 dengan 200 orang yang menghadiri acara tersebut (Jones, dalam Valentine, 2020). Worldcon mengalami hiatus saat perang dunia kedua berlangsung dan berlanjut pada tahun 1946. Sejak saat itu, konvensi ini telah mengadakan total 82 konvensi berbeda yang diselenggarakan di berbagai negara di seluruh dunia seperti Kanada, Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dan Finlandia (Valentine, 2020). Worldcon pertama disebut sebagai contoh awal cosplay meskipun istilah tersebut baru ada pada tahun 1984. Saat itu, Forrest J. Ackerman dan Myrtle R. Douglas berpakaian sebagai karakter dari film tahun 1933 “Things to Come” yang didesain oleh Myrtle R. Douglas (Valentine, 2020; Docherty, 2024). Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah kostum tersebut dapat dianggap sebagai kostum cosplay (Mai, 2015, dalam Lunning, 2022, p. 40).

Gambar Ackerman dan Morojo di 1st Worldcon (1939, NYC)
(sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/File:MorojoAND4SJ.jpg)
Serial TV Star Trek (1960-1969) memicu munculnya konvensi penggemarnya sendiri. Konvensi penggemar pertama yang didedikasikan untuk acara ini terjadi pada 1 Maret 1969 di Perpustakaan Umum Newark (meskipun Francesca Coppa menyebut bahwa konvensi tersebut terjadi kemudian, pada tahun 1972 di New York City). Fandom Star Trek juga menjadi subjek salah satu penyebutan pertama fenomena cosplay yang menginspirasi gerakan yang lebih besar. Pada tahun 1967, editor fiksi ilmiah Arthur W. Saha menggunakan istilah ‘trekkies’ ketika melihat beberapa penggemar musim pertama Star Trek: The Original Series mengenakan telinga runcing di Konvensi Fiksi Ilmiah Dunia ke-25. Serial TV tersebut menginspirasi berbagai konvensi dan kostum serta bentuk kreativitas lainnya, seperti seni penggemar, puisi, lagu, cerita, gambar, dan naskah teleplay. Star Trek membuka jalan bagi jenis fandom fiksi ilmiah baru yang untuk pertama kalinya melibatkan lebih banyak perempuan. Perempuan lebih tertarik pada karakter dan narasi daripada fiksi ilmiah teknis yang sebelumnya didominasi oleh penggemar laki-laki (Lunning, 2022, pp. 41–42).
Di Amerika Serikat, saat tahun 1960-an beralih ke 1970-an, kostum karakter media populer mulai muncul dalam kostum hall dan kostum panggung. Ini termasuk anime, karena pada akhir 60-an dan awal 70-an, beberapa penggemar mulai mengakses ‘Japanimation’ (Feldman, 2018, dalam Lunning, 2022, p. 43). Kawai Yasuo dan Shindo Katsumi; dua pengunjung Jepang di Worldcon 1973 (Torcon II) yang saat itu masih menggunakan istilah “costume show” (Lunning, 2022, p. 43).
2. Budaya Cosplay di Jepang
Istilah cosplay tidak lepas dari pengaruh World Science Fiction Convention (Worldcon) (Plunkett, 2014, dalam Buhl, 2019). Istilah ini pertama kali digunakan dalam artikel berjudul “Operation Cosplay” yang ditulis oleh Takahashi Nobuyuki dan temannya pada tahun 1983 di majalah “My Anime”. Pada tahun 1984, Takahashi Nobuyuki (dikenal di Amerika Serikat sebagai “Nov Takahashi”), pendiri dan penulis untuk Studio Hard, sebuah perusahaan penerbitan anime, menghadiri WorldCon, sebuah konvensi fiksi ilmiah, di Los Angeles (Bruno, 2002; Hlozek, 2004, dalam Winge, 2006). Dia terkesan dengan para penggemar fiksi ilmiah dan fantasi yang mengenakan kostum, terutama mereka yang berkompetisi dalam acara masquerade. Akibatnya, ketika dia kembali ke Jepang dan menulis tentang pengalamannya di konvensi tersebut, dia fokus pada para penggemar yang mengenakan kostum dan acara masquerade. Selain itu, Takahashi mendorong para pembacanya di Jepang untuk memasukkan kostum ke dalam konvensi anime dan manga mereka (Bruno, 2002, dalam Winge, 2006).

Gambar Majalah my anime
sumber: http://www.hard.co.jp/cosplay_02.html
Meskipun istilah tersebut baru ada pada tahun 1984, fenomena cosplay di Jepang sudah ada sejak tahun 1970-an. Pada dekade tersebut, klub manga dan komunitas film sangat populer di kalangan mahasiswa. Pemogokan mahasiswa terhadap kebijakan kampus mendorong pembentukan klub manga sebagai bentuk protes, dan bersamaan dengan boomingnya majalah komik mini seperti Manga Review dan Doujinshi Manpa, Dax, dan Wasedaman, pasar komik Doujinshi mulai berkembang. Comike pertama kali diadakan pada tahun 1975. Penyelenggara acara tersebut membuat “Panel Manga” di mana mahasiswa menggambar potret pelanggan untuk membantu biaya kegiatan mereka. Di acara tersebut, mahasiswa klub manga menyamar sebagai karakter manga dan mengundang seniman “Potret Wajah” untuk berpartisipasi dalam festival sekolah dan acara lainnya (Takahashi, n.d.).
3. Budaya Cosplay di Indonesia
Seperti yang kita ketahui, budaya cosplay di Jepang dan Amerika terus berkembang hingga saat ini. Bahkan, perkembangan cosplay ini juga mempengaruhi sosial masyarakat di Indonesia. Beberapa sumber sepakat bahwa budaya cosplay di Indonesia telah ada sejak tahun 1998, yang dikenal sebagai generasi pertama cosplay di Indonesia (Beno, 2023; Cosplayer Indonesia, 2017; Furnizing, 2019). Event atau konvensi atau acara bertema kebudayaan Jepang pertama yang diadakan di Indonesia adalah Gelar Jepang Universitas Indonesia (GJUI) yang diadakan sejak tahun 1994 (GJUI, 2021). Tidak ada sumber yang memverifikasi apakah budaya cosplay sudah ada saat acara itu berlangsung, tetapi terdapat beberapa sumber yang mengatakan jika GJUI merupakan pionir dari komunitas cosplay di Indonesia (Cosplayer Indonesia, 2017; Setiawan, 2013).
Pada awalnya, budaya cosplay sangat berpusat pada budaya yang ada di Jepang, meskipun terdapat beberapa komunitas cosplay yang berkiblat pada budaya pop di Amerika. Seperti budaya pada umumnya, budaya cosplay mengalami akulturasi dengan budaya yang ada di Indonesia, di mana terdapat cosplay yang melokal seperti Si Buta dari Gua Hantu, Wiro Sableng, Dewi Ular, Gatotkaca versi Saint Wayang, beberapa bersumber dari cerita komik dan pendekar dunia persilatan di Indonesia (Setiawan, 2013).
Penutup
Komunitas cosplay dimulai di Amerika pada awal abad ke-20. William Fell mengenakan kostum Mr. Skygack from Mars pada tahun 1908, yang dianggap sebagai salah satu contoh pertama cosplay. Konvensi fiksi ilmiah seperti World Science Fiction Convention (Worldcon) juga berperan penting dalam perkembangan budaya cosplay. Worldcon pertama kali diadakan pada tahun 1939 di New York dan menjadi tempat munculnya budaya penggemar, termasuk cosplay.
Di Jepang, istilah cosplay pertama kali digunakan oleh Takahashi Nobuyuki pada tahun 1984 setelah terinspirasi oleh penggemar yang mengenakan kostum di WorldCon di Los Angeles. Meskipun istilah ini baru muncul pada tahun 1984, fenomena cosplay di Jepang sudah ada sejak tahun 1970-an, terutama di kalangan klub manga dan komunitas film mahasiswa.
Budaya cosplay juga berkembang di Indonesia sejak tahun 1998, dengan Gelar Jepang Universitas Indonesia (GJUI) sebagai salah satu pionir. Awalnya, budaya cosplay di Indonesia sangat dipengaruhi oleh budaya Jepang, tetapi kemudian berakulturasi dengan budaya lokal, menciptakan karakter-karakter unik dari cerita komik dan pendekar dunia persilatan Indonesia.
Referensi
Beno (2023). Wow! Ribuan Cosplayer Dari Muda Hingga Tua Ada Di Indonesia. Jurnal Patroli News. Dikutip 28 oktober 2024, dari https://jurnalpatrolinews.co.id/gaya-hidup/wow-ribuan-cosplayer-dari-muda-hingga-tua-ada-di-indonesia/
Buhl, M. (2019). Cosplay and cosplayers: A global phenomenon in a local context. In A. Sparrman (Ed.), Children’s and young people’s leisure cultures (pp. 33-46). Nordic Agency for Cultural Policy Analysis
Cambridge University Press. (n.d.). Community. In Cambridge Dictionary. Dikutip October 19, 2024, dari https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/community
Cosplayer Indonesia (2017). Sejarah Perkembangan Cosplay di Indonesia. Cosplay Indonesia. Dikutip 28 oktober 2024, dari https://www.cosplayerindonesia.com/berita-cosplay/sejarah-perkembangan-cosplay-di-indonesia/
Docherty, V. (2024, March 27). Discovering Worldcon: Masquerade, Costuming, and Cosplay. Glasgow 2024. Dikutip 20 October 2024, dari https://www.glasgow2024.org/masquerade-costuming-cosplay
Furnizing (2019). Pinky Lu Xun: Cosplayer Cantik Generasi Pertama Indonesia yang Berkarir Sebagai Arsitek. Furnizing. https://furnizing.com/article/pinky-lu-xun-beautiful-first-generation-indonesian-cosplayer-who-pursues-a-career-as-an-architect
Gelar Jepang Universitas Indonesia (2023). Gelar Jepang UI 29. Goers. Dikutip 28 oktober 2024, dari https://www.goersapp.com/events/gelar-jepang-ui-29–gelarjepangui29
Lunning, F. (2022). Cosplay: The fictional mode of existence. University of Minnesota Press
Nesic, N. (2013). No, really: What is cosplay? (Bachelor’s thesis, Mount Holyoke College). Mount Holyoke College.
Pushkareva, T. V., & Agaltsova, D. V. (2021). Cosplay phenomenon: archaic forms and updated meanings. Rupkatha Journal on Interdisciplinary Studies in Humanities, 13(3), 1-13. https://doi.org/10.21659/rupkatha.v13n3.26
Setiawan, D. (2013). Dialektika cosplay, estetika, dan kebudayaan di indonesia. Corak: Jurnal Seni Kriya, 2(1), 57–70. https://doi.org/10.24821/corak.v2i1.2329
Sugawa-Shimada, A. (2024). Review of the book cosplay: the fictional mode of existence, by frenchy lunning. The Journal of Japanese Studies, 50(2), 506-509. https://muse.jhu.edu/article/933807.
Takahashi, N. (n.d.) 30th Anniversary of COSPLAY. Beginning. Dikutip 20 oktober 2024, dari http://www.hard.co.jp/cosplay_02.html
Valentine, D. (2020). Dublin Comic Con and WorldCon: Cosplay is for everyone (Bachelor’s thesis, Institute of Art Design & Technology, Dun Laoghaire). Dun Laoghaire Institute Of Art Design + Technology.
Wikipedia. (2018, September 3). Morojo and Forrest J Ackerman at Nycon. Wikipedia. Dikutip 20 oktober 2024, dari https://en.wikipedia.org/wiki/File:MorojoAND4SJ.jpg
Winge, T. (2006). Costuming the Imagination: Origins of Anime and Manga Cosplay. Mechademia, 1(1), 65–76. https://doi.org/10.1353/mec.0.0084
Yao, L. (2023). For a new era of symbiosis: The 81st World Science Fiction Convention. Cultures of Science, 6(4), 363–367. https://doi.org/10.1177/20966083231217588