Perkembangan penelitian mendorong manusia tidak hanya meneliti dengan analisis statistik melainkan lebih kepada perspektif subyek. Masalah-masalah yang ada di lingkungan sosial memiliki paradigma yang berbeda jika dilihat dari sisi penelitian kuantitatif maupun kualitatif. Penelitian kualitatif berawal dari filsafat konstruktivissme yang menganggap bahwa kenyataan berdimensi jamak dari berbagai hal yang diinterpretasikan masing-masing individu.
Dalam mendisain penelitian kualitatif yang perlu diingat bahwa selain jenis kasusnya harus jelas, studinya apakah kasus tunggal ataukah multi kasus atau multi situs, demikian pula landasan teori yang digunakan sebagai pendekatan apakah fenomenologis, interaksi simbolik, kebudayaan, dan etnometodologi sebagai arah bagi pengumpulan dan analisis datanya. Bagi seorang peneliti kualitatif fenomena akan dimengerti maknanya dengan baik jika dilakukan interaksi dengan subyek melalui wawancara mendalam dan observasi pada latar dimana fenomena tersebut sedang berlangsung. Selain itu diperlukan dokumentasi, karena bahan-bahan yang di tulis tentang subyek seringkali digunakan untuk melengkapi data yang diperlukan. Dalam metodologi penelitian kualitatif, ada berbagai metode pengumpulan data dan sumber yang biasa digunakan. Dalam beberapa literatur dijelaskan ada berbagai macam metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, antara lain: metode wawancara, observasi, dokumentasi, catatangan lapangan, FGD (Focus Group Discussion) dan trianggulasi.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik Wawancara
wawancara dinyatakan sebagai suatu percakapan dengan bertujuan untuk memperoleh kontruksi yang terjadi sekarang tentang orang, kejadian, aktivitas, organisasi, perasaan, motivasi, pengakuan, kerisauan dan sebagainya ; selanjutnya rekonstruksi keadaan tersebut dapat diharapkan terjadi pada masa yang akan datang ; dan merupakan verifikasi, pengecekan dan pengembangan informasi ( konstruksi, rekonstruksi dan proyeksi) yang telah didapat sebelumnya
Tahap-tahap wawancara meliputi :
Menentukan siapa yang diwawancarai
Mempersiapkan wawancara
Gerakan awal
Melakukan wawancara dan memelihara agar wawancara produktif
Menghentikan wawancara dan memperoleh rangkuman hasil wawancara
Ada beberapa rangkaian dalam melakukan wawancara: pertama pewawancara harus mampu mengambil suasana dan pengalaman partisipan dengan meminta partisipan bercerita sebanyak mungkin tentang dirinya sesuai dengan topik pembicaraan , dalam kurun waktu sampai sekarang. Kegiatan ini disebut wawancara sejarah hidup terfokus (focused life history). Kedua adalah untuk mengkonsentrasikan rincian pengalaman partisipan sekarang, yang sejalan dengan topik penelitian. Wawancara ketiga ialah refleksi makna. Dalam hal ini partisipan diminta merefleksi makna pengalaman yang dimilikinya, ini memegang peran yang penting untuk mengungkap pikiran partisipan. Apabila suatu penelitian melibatkan wawancara yang ekstensif, atau wawancara merupakan teknik utama, direkomendasikan untuk menggunakan tape recorder. Tulisan lengkap dari rekaman ini dinamakan transkrif wawancara yaitu merupakan data pokok dari penelitian wawancara.
Teknik Observasi
Teknik observasi ini mula-mula dipergunakan dalam etnografi. Etnografi adalah studi tentang suatu kebudayaan. Tujuan utama etnografi ini adalah memahami suatu cara hidup dari pandangan orang-orang yang terlibat didalamnya. apa yang dikerjakan , apa yang diketahui , dan benda-benda apa yang dibuat dan dipergunakan, ketiga aspek ini yang dipelajari , apabila seorang peneliti ingin memahami suatu kultur.
klasifikasikan observasi dibagi tiga cara :
Pertama, pengamat dapat bertindak sebagai seorang partisipan atau non partisipan
Kedua, observasi dapat dilakukan secara terus terang (overt) atau penyamaran (convert). Walaupun secara etis dianjurkan untuk terus terang, kecuali untuk keadaan tertentu yang memerlukan penyamaran.
Ketiga menyangkut latar peneliti. Observasi dapat dilakukan pada latar “alami” atau “dirancang” (analog dengan wawancara tak struktur dan wawancara terstruktur).
Tingkat Partisipasi dalam Observasi
Non partisipasi merupakan skala terendah, karena pengamat tidak terlibat dengan orang, hal atau kegiatan yang diteliti, disini peneliti mengumpulkan data dengan pengamatan saja.
Pada pasrtisipasi pasif peneliti hadir dalam peristiwa tetapi tidak berpartisipasi atau berinteraksi dengan orang lain. Hal ini biasa dilakukan dngan membuat sebuah pos observasi dari sini pengamat mengamati dan merekam apa yang sedang terjadi.
Partisipasi moderat terjadi bila peneliti terjun langsung dan mengamati semua dari luar dan dalam, yaitu antara partisipan dan pengamat. Peneliti bisa bertindak sebagai penonton yang mengamati sambil ikut bermain tetapi ia tidak pernah tampil atau memiliki status sebagai pemain reguler.
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam observasi
Buku harian
Catatan tentang satuan-satuan tematis yaitu catatan rinci tentang tema yang muncul
Catatan kronologis
Peta konteks yang dapat berbentuk peta sketsa atau diagram
Taksonomi dan kategori
Jadual observasi berisi dedkripsi waktu secara rinci tentang apa yang dikerjakan, diamati.
Sosiometrik diagram hubungan antara subyek yang sedang diamati
Panel pengamatan secara periodik
Kuesioner yang diisi oleh pengamat
Balikan dari pengamatan lainnya
Daftar cek, dibuat untuk mengecek apakah semua aspek informasi yang diperlukan telah direkam.
Piranti elektronik
Topeng Steno yaitu alat perekam suara yang diletakan secara tersembunyi di tubuh peneliti
Metode Dokumentasi
Burhan Bungin (2007) mengatakan, Metode dokumentasi adalah suatu metode pengumpulan data yang digunakan dalam metodologi penelitian sosial. Singkatnya, metode dokumentasi adalah metode yang digunakan untuk menelusuri data historis. Dengan demikian, dalam penelitian sejarah, bahan dokumenter memegang peranan yang sangat penting. dokumen merupakan sumber data yang digunakan untuk melengkapi penelitian, baik berupa sumber tertulis, film, gambar (foto), dan karya-karya monumental, yang semuanya itu memberikan informasi.
bahan dokumenter dapat dibagi beberapa macam, yaitu:
Otobiografi
Surat-surat pribadi, buku-buku atau catatan harian, memorial
Kliping
Dokumen pemerintah ataupun swasta
Cerita roman dan cerita rakyat
Data di server dan flashdisk
Data yang tersimpan di website dan lain-lain.
Metode Catatan Lapangan
Lexi J. Moeloeng, Catatan Lapangan adalah catataan tertulis tentang apa yang di dengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka mengumpulkan data dan refleksi terhadap data penelitian kualitatif. Jadi, catatan lapangan ini adalah bentuk jadi yang lengkap dari catatan-catatan mentah yang dilakukan ketika ada di lapangan penelitian dalam rangka melakukan kegiatan wawancara dan pengamatan.
Bentuk Catatan Lapangan
setiap kali menuliskan satu pokok persoalan, peneliti harus membuat alinea baru. Batas tepi kanan catatan lapangan harus diperlebar dari biasanya karena ekan digunakan untuk memberi kode kepada waktu analisis. Kode tersebut berupa angka-angka kode, sebesar batas tepi kiri.
Isi Catatan Lapangan
Gambaran diri subyek.
Rekontruksi Dialog.
Catatan tentang Peristiwa Khusus.
Perilaku Pengamat.
Refleksi mengenai analisis.
Refleksi mengenai metode.
Refleksi mengenai dilema etik dan konflik.
Refleksi mengenai kerangka berpikir peneliti.
Klarifikasi.
Pengkodean Catatan
DP : Deskripsi Partisipan
DD : Deskripsi Dialog
DLF: Deskripsi Lingkungan Fisik
DK : Deskripsi Kejadian-kejadian
RR : Refleksi tantang apa yang dirasakan oelh peneliti
RA : Refleksi Analisis
RM : Refleksi Metodologis
RJ : Refleksi Penjelasan, dan lain sebagainya.
Focus Group Discussion (FGD)
Focus Group Discussion (FGD) adalah teknik pengumpulan data yang umum dilakukan pada penelitian kualitatif yang bertujuan menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah kelompok. FGD juga dimaksudkan untuk menghindari pemaknaan yang salah dari seorang peneliti terhadap fokus masalah yang sedang diteliti. Ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan ketika ingin melakukan FGD yaitu jumlah FGD berkisar antara 5-10 orang, peserta FGD harus bersifat FGD, dan terakhir perlunya dinamika kelompok. FGD biasa dilakukan Jika peneliti membutuhkan pemahaman lebih dari satu sudut pandang, Jika terjadi gap komunikasi antar kelompok, Untuk menyingkap suatu fakta secara lebih detail dan lebih kaya, Untuk keperluan verifikasi.
Teknik triangulasi
Triangulasi biasa diartikan sebagai teknik untuk mengecek keabsahan data. Sementara pengertian triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moeloeng, 2007). Triangulasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda yaitu wawancara, observasi dan dokumen. Triangulasi ini selain digunakan untuk mengecek kebenaran data juga dilakukan untuk memperkaya data. Selain itu triangulasi juga dapat berguna untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data, karena itu triangulasi bersifat reflektif. (Nasution, 2003:115). Hal yang dilakukan dalam teknik triangulasi ialah sebagai berikut :
Membandingkan data hasil pengamatan dengan data haasil wawancara
Membandingkan apa yang dikatakan orang pada saat di depan umum dan pribadi
Membandingkan apa yang dikatakan orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu
Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan pendapat dan pandangan masyarakat dari berbagai kelas
Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
Daftar Pustaka
Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group :2007)
Lexy J. Moeloeng, Metodologienelitian Kualitatif, (Bandung:Remaja Rosdakarya, 2007
Nasution, Prof. Dr. S. 2003. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung : Tarsito.
Sugiyono, 2008. Metode Penelitian kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: ALFABETA.