Penulis: Risha Diva Sari
Pendahuluan
Pradiansyah (2015) mengawali buku yang ditulisnya dengan dua pertanyaan yang diajukan kepada peserta pelatihan. Pertanyaan pertama, “Kalau anda diminta memilih diantara dua kelas yang saya selenggarakan kelas pertama tentang kesuksesan dan kelas kedua tentang kebahagiaaan yang manakah yang anda pilih?” sebagian besar peserta memilih kelas kesuksesan dengan alasan jika mereka tahu kiat-kiat sukses lalu akhirnya menjadi sukses, maka mereka akan bahagia. Pertanyaan kedua, “Mana yang datang lebih dulu: kesuksesan atau kebahagiaan?” peserta dengan lantang menjawab tentu saja sukses setelah itu kita akan bahagia.
Kenyataannya hal tersebut sebenarnya sangat jauh panggang dari api, ini dibuktikan oleh Anchor (2010) dalam bukunya “The Happines Advantage” yang mengemukakan beberapa penelitian bahwa orang-orang yang berbahagia memiliki prestasi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan mereka yang netral terlebih yang tidak bahagia. Lebih dari 200 penelitian juga menghasilkan kesimpulan yang sama yaitu kebahagiaan mengarahkan kepada kesuksesan dihampir setiap lini kehidupan kita (Pradiansyah, 2015).
Pembahasan
Kebahagiaan merupakan suatu hal yang menyenangkan dan diidamkan oleh hampir setiap orang. Menurut Seligman (2005) kebahagiaan ialah luapan perasaan positif yang dirasakan oleh seseorang pada masa lampau, masa kini maupun masa mendatang yang membentuk suatu emosi positif. Carr (2004) membedakan kebahagiaan menjadi dua aspek, yaitu aspek afektif dan aspek kognitif. Aspek afektif menggambarkan pengalaman emosi seperti kesenangan, kegembiraan, dan rasa bahagia. Sementara itu, aspek kognitif berkaitan dengan kepuasan terhadap berbagai aspek kehidupan. Menurut Maslow (1943) kebahagiaan penting karena merupakan hasil dari terpenuhinya kebutuhan dasar hingga aktualisasi diri, yang memungkinkan seseorang mencapai potensi terbaik dan menjalani hidup yang bermakna. Lantas pertanyaannya apa rahasia kebahagiaan?
Pertanyaan diatas bisa dijawab oleh sebuah penelitian longitudinal yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Harvard selama 80 tahun, dimulai dari tahun 1983. Penelitian ini merupakan salah satu studi terpanjang di dunia tentang kehidupan orang dewasa, para peneliti telah mengumpulkan banyak data mulai dari wawancara, memeriksa rekam medis, mengambil darah dan memindai otak. Robert Weldinger merupakan direktur ke-4 dari studi ini ia merupakan seorang psikiater di Rumah Sakit Umum Massachussets dan seorang psikiater di Harvard Medical School. Penelitian ini melibatkan 724 orang, sekitar 60 masih hidup dan kini peneliti mulai mempelajari lebih dari 1.300 anak-anak dari mereka.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut faktor kebahagiaan justru bukanlah tentang kekayaan, ketenaran atau bekerja lebih keras. Namun tentang hubungan yang baik membuat kita semakin bahagia dan sehat (Weldinger & Schulz, 2023). Ada 3 pelajaran penting yang didapatkan yaitu:
1. Hubungan dekat dengan orang lain
Hubungan sosial sangat bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental kita. Orang yang memiliki keterhubungan sosial yang baik dengan keluarga, teman, dan komunitas cenderung lebih bahagia, lebih sehat, dan hidup lebih lama dibandingkan mereka yang kurang terhubung. Sebaliknya, kesepian dapat memberikan dampak yang merugikan.
2. Kualitas Hubungan
Hubungan yang baik bukan dari seberapa banyak teman yang kita miliki namun tentang seberapa berkualitasnya hubungan tersebut. Mereka yang bahagia dalam hubungan cenderung tetap memiliki suasana hati positif meski menghadapi masalah kesehatan, sedangkan mereka dalam hubungan yang tidak memuaskan merasa lebih menderita secara emosional saat sakit.
3. Hubungan dan Kesehatan
Hubungan yang baik melindungi kesehatan fisik dan otak saat usia lanjut. Lansia yang merasa dapat mengandalkan pasangan mereka memiliki ingatan yang tetap tajam, sementara mereka yang merasa tidak dapat bergantung pada pasangan cenderung mengalami penurunan memori lebih cepat. Hubungan yang baik tidak perlu selalu bebas dari konflik, selama ada rasa saling mendukung saat menghadapi kesulitan, hubungan tersebut tetap memberikan manfaat bagi kesehatan otak.
Hasil penelitian ini dimuat dalam buku “The Good Life: Lessons from the World’s Longest Scientific Study of Happiness”yang ditulis oleh Robert Weldinger dan Marc Schulz. Robert Weldinger juga menyampaikan studi ini dalam Youtube TED yang sudah ditonton sebanyak 26 JT.
(Sumber: Youtube TED)
Penutup
Kebahagiaan berasal dari hubungan yang baik dengan orang lain. Walaupun saran ini sederhana dan sudah lama ada, banyak yang mengabaikannya karena sifat hubungan yang rumit dan memerlukan usaha seumur hidup untuk dijaga. Studi selama 80 tahun ini menunjukkan bahwa orang yang bahagia bukanlah yang memiliki ketenaran atau kekayaan, tetapi yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga, teman, dan komunitas.
Referensi
Anchor, S. (2010). The happiness advantage: the seven priciples of positive psychology that fuel success and performance at work. New York : Crown Publishing.
Carr, A. (2004). Positive psychology: the science of happiness and human strengs. New York: Brunner Routledge.
Maslow, Abraham H. 1943. Motivation and personality. Rajawali, Jakarta.
Pradiansyah, A. (2015). Laws of happiness. Jakarta : PT Integritas Lestari Manajemen.
Seligman, M.E.P. (2005). Authentic happiness: menciptakan kebahagiaan dengan psikologi positif. Bandung : Mizan Pustaka.
Weldinger, R. (2015). Robert Weldinger: What makes a good life? Lessons from the longest study on happiness. Yotube, https://youtu.be/8KkKuTCFvzI?si=wBsVLOXbRfR_9r2W
Weldinger, R., & Schulz, M. (2023). The Good Life: Lessons from the World’s Longest Scientific Study of Happiness. New York.