Learning Agility sebagai Kompetensi Masa Depan: Strategi Adaptasi Individu dalam Menghadapi Perubahan Sosial melalui Pembelajaran Berbasis Komunitas
Learning Agility sebagai Kompetensi Masa Depan: Strategi Adaptasi Individu dalam Menghadapi Perubahan Sosial melalui Pembelajaran Berbasis Komunitas
Diterbitkan : Sab, 10 Oktober 2026
Penulis : Divisi Humas
Kolaborasi Membuat Miniatur Kota

Penulis : Mukarramah

Perubahan zaman bergerak lebih cepat daripada kemampuan banyak orang untuk menyesuaikan diri. Teknologi terus berkembang, globalisasi makin meluas, dan pola hidup masyarakat ikut bergeser, sehingga arah perubahan sosial sulit diprediksi. Sinha dan Sinha (2020) menyebut kondisi ini sebagai dunia VUCA (volatile, uncertain, complex, ambiguous), yakni lingkungan yang menuntut cara baru dalam menghadapi ketidakpastian. Dalam situasi demikian, kemampuan beradaptasi menjadi kebutuhan yang kian penting, baik dalam kehidupan sosial maupun dalam dunia kerja.

Penelitian tentang dunia kerja menunjukkan kecenderungan serupa. Saputra, Kuncoro, dan Sasmoko (2022) menyatakan bahwa perubahan yang terus-menerus dalam bisnis menuntut orang di dalam organisasi untuk cepat beradaptasi, sehingga ketangkasan belajar (learning agility) menjadi hal yang strategis dalam pengembangan sumber daya manusia. Church dan Seaton (2022) pun memandang learning agility sebagai unsur inti dalam sistem manajemen talenta yang berhasil.

Salah satu cara untuk menumbuhkan kemampuan adaptif tersebut ialah pembelajaran berbasis komunitas, yaitu pendekatan yang menempatkan warga sebagai pelaku aktif dalam proses belajarnya, bukan sekadar penerima informasi (Nchaga, 2025).

Pada titik inilah learning agility menjadi relevan. De Meuse (2017) menelusuri perkembangan konstruk ini, yang dipahami sebagai kemampuan sekaligus kemauan untuk belajar dari pengalaman dan menerapkannya pada situasi baru, beserta hubungan empirisnya dengan keberhasilan pemimpin. Meski demikian, kajian tentang learning agility sejauh ini lebih banyak dilakukan dalam konteks kepemimpinan dan manajemen talenta. Artikel ini karenanya disusun sebagai kajian konseptual. Tujuannya menelaah hubungan antara learning agility dan pembelajaran berbasis komunitas, sekaligus mengajukan argumen bahwa pembelajaran berbasis komunitas berpotensi memperkuat daya adaptasi individu.

Memahami Learning Agility

Secara sederhana, learning agility berarti kemampuan menarik pelajaran dari berbagai pengalaman untuk kemudian dipakai dalam situasi yang belum pernah dihadapi. Kemampuan ini tidak terbatas pada mengenali hal baru. Ia juga meliputi refleksi atas pengalaman, penilaian terhadap cara berpikir sendiri, dan penyesuaian tindakan ketika keadaan berubah (De Meuse, 2017). Church dan Seaton (2022) memandangnya sebagai faktor penting untuk mengenali potensi kepemimpinan, menyiapkan jalur pengembangan, dan merencanakan suksesi di organisasi yang berada dalam lingkungan yang cepat berubah.

Dalam literatur, learning agility umumnya dijabarkan dalam empat dimensi: people agility, mental agility, change agility, dan results agility (De Meuse et al., 2010). People agility berkaitan dengan kemampuan menjalin hubungan dan bekerja sama dengan orang yang berlainan karakter dan latar belakang. Mental agility tercermin dari cara berpikir yang terbuka dan luwes ketika menghadapi persoalan rumit. Change agility menunjukkan kesiapan menerima, bahkan mencari, pengalaman dan perubahan baru. Results agility berkaitan dengan kemampuan tetap menghasilkan capaian dalam situasi yang menekan atau belum pernah dialami. Keempat dimensi tersebut juga telah diadaptasi dan divalidasi dalam instrumen berbahasa Indonesia untuk karyawan (Wardhani et al., 2022). Di sisi lain, De Meuse dan Harvey (2022) mengingatkan bahwa banyak aspek konstruk ini masih belum jelas dan bahwa pemakaiannya dalam praktik kerap mendahului pengujian ilmiahnya.

Pembelajaran Berbasis Komunitas

Menurut uraian Nchaga (2025), pembelajaran berbasis komunitas memadukan pengajaran akademik dengan keterlibatan komunitas, sehingga mendorong kolaborasi, partisipasi warga, dan tumbuhnya keterampilan lewat interaksi sosial yang bermakna, walaupun penerapannya tidak lepas dari tantangan. Chowdhury dan Alzarrad (2025) menelaah pendidikan berbasis komunitas di perguruan tinggi dan menempatkan pembelajaran berbasis pengalaman melalui keterlibatan langsung dengan persoalan nyata komunitas sebagai intinya. Penerapannya di Indonesia dapat dilihat pada studi Sujarwo, Tristanti, dan Santi (2017) di Desa Wisata Bejiharjo. Program pemberdayaan perempuan yang disusun bersama peserta dan bertolak dari potensi lokal usaha kuliner tersebut menghasilkan peningkatan motivasi, kemampuan mengelola usaha, dan keterampilan memasak.

Menghubungkan Keduanya

Pembelajaran berbasis komunitas dan learning agility dapat dikaitkan lewat siklus belajar dari pengalaman. Morris (2020) mengusulkan model yang terdiri atas pengalaman konkret yang kaya konteks, pengamatan reflektif yang kritis, konseptualisasi abstrak yang sesuai konteks, dan eksperimen aktif yang pragmatis. Ia menempatkan refleksi kritis sebagai perantara pembelajaran yang bermakna, dan mencatat bahwa model tersebut masih perlu diuji secara empiris. Menurut penulis, siklus ini menyerupai inti learning agility, yaitu mengolah pengalaman menjadi pelajaran yang dapat dipakai pada situasi baru. Karena pembelajaran berbasis komunitas berisi pengalaman langsung dan persoalan nyata, pendekatan ini dapat menyediakan ruang bagi siklus tersebut. Syaratnya, refleksi perlu difasilitasi dengan sengaja, bukan dibiarkan terjadi begitu saja.

Dukungan penelitian bagi keterkaitan ini masih terbatas, tetapi ada beberapa petunjuk dari studi di Indonesia. Pertama, Nchaga (2025) menguraikan bahwa pembelajaran berbasis komunitas mendorong kolaborasi, sedangkan Aliyyah dan Idham (2020) menemukan hubungan positif yang cukup kuat antara learning agility dan perilaku kolaborasi pada pekerja di Jakarta. Keduanya mengarah pada people agility, yaitu kemampuan bekerja sama dengan beragam orang, meskipun hubungan ini belum diuji langsung pada peserta pembelajaran komunitas. Kedua, Santoso dan Yuzarion (2021) menyebut dukungan sosial dan orientasi tujuan sebagai hal yang diperlukan untuk membangun learning agility pada guru berprestasi di Yogyakarta. Ketiga, Saputra, Kuncoro, dan Sasmoko (2022) menemukan bahwa budaya belajar yang intensif berhubungan dengan ketangkasan belajar melalui keterlekatan kerja pada manajemen puncak perusahaan di Indonesia.

Ketiga studi tersebut melibatkan pekerja, guru, dan manajer, bukan peserta pembelajaran komunitas. Temuannya karenanya lebih tepat dipandang sebagai petunjuk bahwa lingkungan yang kolaboratif, suportif, dan kaya budaya belajar berkaitan dengan learning agility, bukan sebagai bukti bahwa pembelajaran komunitas menumbuhkannya. Adapun bukti bagi dimensi lainnya, yaitu mental agility, change agility, dan results agility, belum ditemukan dalam penelitian yang dirujuk.

Jika learning agility dipandang strategis dalam menghadapi perubahan (Church & Seaton, 2022; Saputra et al., 2022), penguatannya melalui pembelajaran berbasis komunitas tampak masuk akal sebagai salah satu strategi untuk mempersiapkan individu menghadapi perubahan sosial yang terus berlanjut. Namun, kemungkinan ini masih perlu diuji secara empiris.

Kesimpulan

Learning agility semakin dibutuhkan, bukan hanya untuk menanggapi perubahan sosial yang sedang terjadi, melainkan juga untuk mengantisipasi tuntutan di masa depan. Kemampuan belajar dari pengalaman, berpikir terbuka, dan menyesuaikan diri dengan situasi baru dapat tetap relevan seiring zaman yang terus berubah.

Dengan sifatnya yang partisipatif dan berpijak pada pengalaman nyata, pembelajaran berbasis komunitas berpotensi mendukung pengembangan learning agility, terutama pada aspek kerja sama dengan orang lain. Karena itu, lembaga pendidikan, organisasi, dan pemerintah daerah dapat mempertimbangkannya sebagai salah satu strategi pengembangan learning agility. Kajian ini bersifat konseptual. Sebagian besar penelitian yang dirujuk tidak mengukur learning agility secara langsung dalam konteks komunitas, dan bukti bagi dimensi lainnya belum tersedia. Penelitian empiris yang mengukur perubahan learning agility pada peserta program berbasis komunitas diperlukan untuk menguji argumen ini.

Daftar Pustaka

Aliyyah, I. H., & Idham, R. A. (2020). Hubungan learning agility dan perilaku kolaborasi pada pekerja di Jakarta. Biopsikososial, 4(1), 179–198. https://doi.org/10.22441/biopsikososial.v4i1.8293

Chowdhury, S., & Alzarrad, A. (2025). Advancing community-based education: Strategies, challenges, and future directions for scaling impact in higher education. Trends in Higher Education, 4(2), Article 21. https://doi.org/10.3390/higheredu4020021

Church, A. H., & Seaton, G. A. (2022). Learning agility as a key driver of leadership potential for talent identification, pipeline development, and succession planning in organizations. Consulting Psychology Journal: Practice and Research, 74(3), 237–252.

De Meuse, K. P. (2017). Learning agility: Its evolution as a psychological construct and its empirical relationship to leader success. Consulting Psychology Journal: Practice and Research, 69(4), 267–295.

De Meuse, K. P., Dai, G., & Hallenbeck, G. S. (2010). Learning agility: A construct whose time has come. Consulting Psychology Journal: Practice and Research, 62(2), 119–130.

De Meuse, K. P., & Harvey, V. S. (2022). The science and application of learning agility: Introduction to the special issue. Consulting Psychology Journal: Practice and Research, 74(3), 207–214.

Morris, T. H. (2020). Experiential learning: A systematic review and revision of Kolb’s model. Interactive Learning Environments, 28(8), 1064–1077. https://doi.org/10.1080/10494820.2019.1570279

Nchaga, A. M. (2025). Exploring community-based learning: Opportunities and challenges. Research Output Journal of Arts and Management, 4(1), 46–52. https://doi.org/10.59298/ROJAM/2025/414652

Santoso, A. M., & Yuzarion. (2021). Analysis of learning agility in the performance of achievement teachers in Yogyakarta. Pedagogik: Jurnal Pendidikan, 8(1), 77–122. https://doi.org/10.33650/pjp.v8i1.2126

Saputra, N., Kuncoro, E. A., & Sasmoko. (2022). Melacak pengaruh budaya belajar terhadap ketangkasan belajar: Peranan keterlekatan kerja sebagai mediator. Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 8(2), 909–920. https://doi.org/10.37905/aksara.8.2.909920.2022

Sinha, D., & Sinha, S. (2020). Managing in a VUCA world: Possibilities and pitfalls. Journal of Technology Management for Growing Economies, 11(1), 17–21. https://doi.org/10.15415/jtmge.2020.111003

Sujarwo, S., Tristanti, T., & Santi, F. U. (2017). Pengembangan model pemberdayaan perempuan desa wisata melalui pendidikan berbasis komunitas. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan, 10(1), 75–85. https://doi.org/10.21831/jpipfip.v10i1.16798

Wardhani, N. S., Sulastiana, M., & Ashriyana, R. (2022). Adaptasi alat ukur learning agility pada karyawan untuk meningkatkan organizational agility: Versi bahasa Indonesia. Psikologika, 27(2), 243–264. https:// 27(2), 243–264. https://doi.org/10.20885/psikologika.vol27.iss2.art4

PDF tidak menyimpan batas paragraf, jadi pemisah paragrafnya saya perkirakan dari susunan kalimat, dan huruf miringnya tidak ikut tersalin. Potongan ganda di entri Wardhani saya biarkan apa adanya sesuai permintaan Anda; hapus sendiri jika ingin merapikannya.

Blog
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Artikel Lainnya

Di Balik Diam yang...
Penulis : ST. Maulida Tidak semua orang yang sedang mengalami kesulitan menunjukkan kesedihannya secara terbuka. Sebagian tetap menjalankan...
Sab, 10 Oktober 2026 | 2:39
Melihat yang Tak Terlihat:...
Penulis : Sherlyana Banyak siswa di Indonesia yang hapal di luar kepala rumus volume balok atau kubus. Namun,...
Jum, 9 Oktober 2026 | 1:24
Berpikir tentang Cara Berpikir:...
Penulis : Hardiansyah Rasyid Setiap hari manusia mengambil ratusan keputusan, mulai dari memilih makanan, menilai orang lain, hingga...
Jum, 9 Oktober 2026 | 1:20
Ketika Media Sosial Membentuk...
Penulis : Kamlia Investasi kini tidak lagi hanya dibicarakan di ruang seminar, kantor perusahaan sekuritas, atau buku-buku ekonomi....
Rab, 7 Oktober 2026 | 2:19